HPN 2019, PWI Sulbar On The Way Surabaya

Gambar HPN 2019, PWI Sulbar On The Way Surabaya

Pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) ke 73, dipusatkan di Surabaya, Jawa Timur, mulai tanggal 6-9 Februari 2019.

Mapos, Surabaya – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulbar sendiri turut ambil bagian dalam kegiatan tahunan wartawan se Indonesia itu.

Tanggal 6 Februari 2019, pukul 07.30 Wita, perjalanan mulai ditempuh dari Bandara Tampa Padang Mamuju menuju Bandara Hasanuddin, Makassar, dilanjutkan menuju Bandara Juanda, Surabaya, tepat pukul 10.30 WIB.

Capek, lelah, terobati setelah tiba di Kota Surabaya, kota perjuangan atau lebih dikenal dengan kota Pahlawan. Di kota inilah, lahir para pahlawan kemerdekaan, termasuk para pemuda yang turut membantu kemerdekaan Indonesia di zaman penjajahan.

Ya, disinilah Sutomo atau lebih dikenal dengan nama Bung Tomo, meneriakkan takbir yang diikuti oleh seluruh pemuda. Semangat itu kembali berkobar melawan penjajah, walaupun peralatan perang pada saat itu masih sangat terbatas yang dimiliki para pejuang kita.

Sosok Bung Tomo dikenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945.

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia menjadi salah satu Pemimpin yang menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya, yang pada waktu itu Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat untuk melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan Eropa.

Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan semangat kemerdekaan.

Meskipun Indonesia kalah dalam Pertempuran 10 November itu, Rakyat Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Inggris dan kejadian ini dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Di kota ini, Anda dapat menemukan berbagai macam jejak sejarah yang masih terjaga dengan baik.

Berbagai jejak sejarah ini tertuang dalam tugu dan gaya klasik yang masih berdiri kokoh di beberapa sudut Kota Surabaya.

Dengan berbagai jejak sejarah ini, tidak heran jika Surabaya menjadi kota yang menarik bagi mereka yang menyukai wisata sejarah.

Setelah melepaskan penat di warkop Juanda, kami kembali menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 4 km menuju tempat yang akan dijadikan pelaksanaan kegiatan HPN 2019.

Sepanjang jalan, mata kami terus membelalak, bukan udik ataupun riya’. Kami bangga, ternyata Indonesia kaya. Kaya dalam artian solidaritasnya begitu tinggi terhadap tamunya.

Ya, kami dijamu dengan baik oleh tuan rumah (panitia HPN), mulai dari bandara Juanda hingga tiba di hotel, tempat kami menginap yang tidak jauh dari tempat pelaksanaan HPN 2019.

Senyum keakraban panitia dalam melayani kami tak bisa diukirkan. Solidaritas, kekompakan, persaudaran, tumbuh di kota ini (Surabaya).

Persatuan yang kokoh, itulah kunci berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia.

“KITA ADALAH PWI”

(*)