Hendak Konfirmasi Keluhan Warga, Pihak PLTU Belang-belang Enggan Bertemu Wartawan

0
113

Mapos, Mamuju — Sekitar 108 KK dan 500 jiwa Warga yang tinggal di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Belang-belang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat mengeluhkan adanya polusi udara berupa debu dan embun yang di timbulkan dari pembakaran batu bara PLTU.

“Embun dari hasil pembakaran batu bara dan diduga bercampur zat kimia lain dari PLTU Belang-belang menyelimuti rumah warga, sehingga mereka harus berkali-kali mengganti atap rumahnya yang berkarat dan bocor,” ungkap salah seorang Warga Dusun Talaba, Desa Belang-belang, Kecamatan Kalukku yang mengaku bernama Wandi, Sabtu (06/03/2021).

Katanya, dampak yang ditimbulkan dari PLTU sangat banyak, yang kasat mata saja seperti atap rumah warga banyak yang hancur, selalu di ganti karena berkarat. “Pihak PLTU sebenarnya mengganti tapi caranya kurang maksimal karena perbulan hanya satu rumah. Sementara hujan tidak punya waktu. Kemudian biaya pemasangan tidak ada, kami cuman dibawakan atap saja,” keluhnya.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

Seperti biasa, lanjut Wandi, pihak PLTU kerap berjanji untuk melakukan perbaikan di bulan pertama, tapi sampai empat bulan ditunggu tidak satupun terealisasi.

“Dulu Pak kami punya bagang pacok (alat penangkap ikan) sekarang semua tidak ada karena dilarang dari awal, pihak PLTU bilang kami akan ganti rugi semua tapi yang di ganti rugi cuman ada beberapa saja, lebih banyak yang tidak diganti rugi dari pada diganti rugi,” ungkap Wandi.

Sejumlah kegiatan masyarakat seperti aktifitas nelayan juga tidak dibolehkan oleh pihak PLTU Belang-belang. “Kami sekarang Pak mau membangun bagang salah, tidak membangung begini mi kurang mata pencaharian bahkan hampir tidak ada karena akses kami dilalui Kapal Ponton (Kapal Pemuat Batu Bara) sehingga dilarang membangung bagang pacok,” beber Wandi.

Ia mengisahkan bahwa sekitar satu tahun PLTU Belang-belang beroprasi, banyak ikan mati di laut diduga akibat limbah bangang yang turun ke laut yang diduga mengandung zat kimia.

“Banyak warga Dusun Talaba yang menyaksikan kejanggalan ini seperti Wulandari, M.Ramli dan Masri. Kami beberapa kali coba berusaha menemui pihak perusahaan tapi selalu gagal. Kami juga sudah beberapa kali minta tolong ke wartawan untuk melakukan klarifikasi ke perusahaan tapi tetap saja nihil,” aku Wandi.

Sayangnya, lagi-lagi ketika Mamujupos.com coba melakukan konfirmasi ke pihak PLTU Belang-belang, juga tidak berhasil lantaran ketatnya penjagaan security di depan area pintu masuk.

Lewi salah seorang Security PLTU, hanya meminta maaf kepada wartwan media dan menyampaikan karena pimpinannya belum bisa ditemui dengan alasan meeting.

”Maaf tidak boleh masuk karena pimpinan sedang rapat dan tidak boleh diganggu dalam waktu beberapa hari ini,” kata Lewi dan tetap mencegah wartawan ketemu pimpinan PLTU.

(Texan Yosafat)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.