Hasil Meleset Jauh, Begini Penjelasan Wadir JSI

0
543

Mapos, Mamuju – Hasil survei Jaringan Suara Indonesia (JSI), hampir pasti meleset di Pilkada Mamuju. Setelah hasil real count paslon nomor urut 1 Sutinah Suhardi-Ado Mas’ud, unggul selisih 6,68 persen dari paslon petahana Habsi-Irwan di 11 Kecamatan se Kabupaten Mamuju.

Sebagaimana diberitakan berbagai media tanggal 11 November 2020 lalu, JSI merilis hasil surveinya untuk Pilkada Mamuju. Dan menunjukkan bahwa paslon petahana Habsi-Irwan unggul telak 65,9 persen. Sementara penantangnya, Tina-Ado, hanya berada diangka 34,1 persen.

Terkait meleset jauhnya survei tersebut, Menurut Wakil Direktur JSI Popon Lingga Geni, mengungkapkan bahwa angka itu adalah snapshot rekaman pada saat survei dilakukan. Dan memang lebih dahulu dilaksanakan jauh sebelum Pilkada, tepatnya pada Tanggal 21 sampai 26 Oktober 2020 atau sekitar 40 hari sebelum Pilkada.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

“Jadi, pasti akan punya perbedaan, manakala mesin politik kandidat tidak berjalan di lapangan. Menurut saya itu yang terjadi di Mamuju. Ini intuisi saya,” aku Popon, via telepon, Selasa (15/12/2020).

Selain itu ia juga mengungkapkan, bahwa untuk Pilkada Mamuju JSI hanya melaksanakan survei. Tidak melakukan pendampingan kandidat.

“Jadi, artinya kita tidak memantau day to day situasi di Kabupaten Mamuju,” katanya.

Ia juga mengungkap bahwa sebelum merilis hasil survei melalui konferensi pers tanggal 11 November 2020 lalu, dia telah menyampaikan dua hal ke kandidat. Yaitu soal snowball effect dan underdog effect.

“Dirilisnya hasil survei itu menjadi snowball effect. Lalu bergulir dan orang semakin semangat untuk memenangkan paslon Habsi-Irwan. Terutama di tim, tidak terjadi penurunan speed dan intensitas pergerakan tidak turun. Itu effect pertama,” papar Popon

“Lalu yang kedua, survei itu menjadi underdog effect dipihak kompetitor yang merasa masih tertinggal, masih harus bekerja keras. Sementara di sisi tim Habsi-Irwan, mungkin punya psikologis sudah menang dan lain-lain. Sehingga yang terjadi di Pilkada Mamuju saat ini ialah underdog effect. Semua ini sudah saya sampaikan secara gamblang saat saya paparkan presentasi di Mamuju,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, bahwa dia tidak tahu secara detail perkembangan yang terjadi saat Pilkada berlangsung. Apakah kedua kandidat sama-sama fight di elektoral atau ada anomali. Atau ada peristiwa yang terjadi 40 hari terakhir.

“Ini sebuah anomali yang tentu harus diukur berdasarkan peristiwa atau kejadian 40 hari terakhir sebelum Pilkada berlangsung. Biasanya survei kami lakukan seminggu menjelang pilkada, sehingga dinamisasi pergerakan di lapangan atau elektoralnya kecil mengubah hasil survei. Tapi kalau 40 hari sebelum Pilkada itu masih bisa berubah, tentu kadaluwarsa datanya” tutup Popon.

(*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.