Etika Kekuatan dalam Islam

Secangkir Kopi

(Catatan Ngaji Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, Jumat Pagi)

Oleh : Hajrul Malik  *

Mapos, PAGI ini, seperti biasa, saya kembali duduk dalam majelis ngaji Jumat. Bukan majelis besar, bukan pula forum resmi.

Hanya ngaji Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, kitab yang selalu tampak sederhana di luar, tapi dalam dan menghunjam di dalam.

Ngaji ini bagian dari Ngaji UMAR, sebuah majelis rutin yang sudah berjalan lebih dari lima tahun, diikuti oleh jamaah dari berbagai latar belakang, dilaksanakan setiap hari melalui Zoom, membahas beragam kitab turats.

Dan setiap hari Jumat, secara konsisten, kami kembali ke Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn.

Pagi ini, ngaji dipandu oleh Ustadz Musyaffah Ahmad Rahim, dengan gaya khas: tenang, runtut, tidak tergesa-gesa mengejar kesimpulan. Justru di situlah ruang merenung itu terbuka.

Kami sampai pada satu hadis yang jujur saja sering dibaca, sering didengar, tapi jarang benar-benar direnungi secara serius.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> «أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟

كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ.

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟

كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ»

(Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini dibaca. Dijelaskan.

Namun pagi ini, ada satu hal yang terus tinggal di kepala saya:

Diksi-diksinya.

Ḍa‘īf Mutaḍa‘‘af: lemah, tapi bukan lemah mental Rasulullah ﷺ tidak menggunakan kata “orang gagal”. Tidak pula menyebut “orang kalah”.

Yang dipakai adalah diksi:

ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ (ḍa‘īf mutaḍa‘‘af) — lemah dan dilemahkan. Ini penting.

Hadis ini tidak sedang memuliakan mental yang rapuh, tidak pula membenarkan sikap pasrah yang putus asa.

Yang dimaksud adalah lemah secara struktur sosial:

tidak punya kuasa, tidak punya posisi, tidak diperhitungkan, bahkan sering disingkirkan oleh sistem.

Namun justru tentang mereka Nabi ﷺ berkata:

> «لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ»

“Jika ia bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkannya.”

Di sini saya terdiam. Karena ternyata, Islam tidak mengukur kekuatan dari luar, tetapi dari ketergantungan batin.

Orang-orang ini mungkin kecil di mata manusia, tetapi hatinya tidak bercabang. Doanya jujur, tidak ditunggangi ambisi. Hidupnya lurus, tidak sedang bernegosiasi dengan dunia.

Mereka lemah secara sosial, tetapi kuat secara spiritual.

‘Utull, Jawwāẓ, Mustakbir: wajah kekuatan yang rusak

Lalu Rasulullah ﷺ menyebut lawannya. Bukan sekadar orang kuat. Bukan pula orang kaya. Tetapi tiga karakter:

عُتُلٍّ (‘utull): keras, kasar, kehilangan empati.

جَوَّاظٍ (jawwāẓ): rakus, menimbun, tidak pernah merasa cukup.

مُسْتَكْبِرٍ (mustakbir): sombong, merasa lebih tinggi dari orang lain.

Di sinilah hadis ini terasa sangat kontemporer. Jawwāẓ bukan sekadar soal harta. Ia adalah mentalitas.

Mentalitas orang yang selalu takut kehilangan cemas jika berbagi, mengamankan segalanya untuk diri sendiri dan menjadikan manusia lain sekadar alat.

Ia tampak kuat, padahal sesungguhnya rapuh di dalam. Ia menimbun bukan karena cukup, melainkan karena tidak pernah merasa aman.

Dua wajah kekuatan Hadis ini seperti sedang memperhadapkan kita pada dua jenis kekuatan:

1. Kekuatan batin yang tenang, meski hidup sederhana

2. Kekuatan semu yang gelisah, meski tampak berkuasa

Yang pertama dekat dengan langit. Yang kedua sibuk menjaga dunia.

Dan rupanya, surga dan neraka bukan soal posisi, melainkan soal ke mana hati bergantung.

Penutup: pelajaran sunyi dari ngaji Jumat

Saya menutup ngaji pagi ini dengan satu kesimpulan yang sunyi tapi menghunjam:

> Dalam Islam, yang berbahaya bukanlah menjadi lemah, melainkan merasa kuat tanpa Allah.

Dan yang menyelamatkan bukanlah menjadi besar, melainkan tetap lurus saat tidak dianggap.

Mungkin itulah sebabnya Rasulullah ﷺ begitu tegas dalam hadis ini. Agar kita tidak salah mengagungkan kekuatan, dan tidak keliru meremehkan ketulusan.

(***)

 

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulbar
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...