Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, TIDAK semua luka terlihat. Ada luka yang tidak berdarah, tetapi meninggalkan jejak panjang dalam cara seseorang merespons hidup. Luka-luka itu sering terbentuk sejak kecil: dimarahi tanpa dipahami, diabaikan saat butuh dipeluk, atau tumbuh dalam rumah yang penuh ketegangan. Ketika luka itu tidak pernah disadari dan disembuhkan, ia tidak benar-benar hilang. Ia berubah bentuk menjadi emosi yang mudah meledak, kecemasan yang berlebihan, atau sikap keras yang kita anggap sebagai ‘ketegasan’.
Banyak orang tua membawa emosi yang tidak selesai dari masa lalunya. Mereka mungkin tidak pernah mendapatkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan. Maka ketika dewasa, emosi itu mencari jalan keluar dalam relasi terdekat: pasangan dan anak-anak. Anak, sekali lagi, menjadi pihak yang paling rentan menerima limpahan emosi yang sesungguhnya bukan sepenuhnya tentang dirinya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam fitrah yang baik:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. ar-Rūm: 30)
Namun fitrah ini bisa tertutup oleh pengalaman hidup yang menyakitkan. Luka batin yang menumpuk membuat seseorang jauh dari kejernihan dirinya sendiri. Ia tetap beribadah, tetap berperan sebagai orang tua, tetapi di dalam dirinya ada kegaduhan yang belum selesai. Ketika fitrah tertutup, respons emosional pun menjadi reaktif, bukan reflektif.
Ilmu psikologi menyebut bahwa banyak respons emosi orang dewasa berasal dari inner child bagian diri yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. John Bowlby, pelopor teori attachment, menjelaskan bahwa pola keterikatan awal dengan orang tua membentuk cara seseorang mencintai, marah, dan merasa aman di kemudian hari. Anak yang tumbuh dalam kelekatan yang aman cenderung lebih stabil secara emosi. Sebaliknya, mereka yang tumbuh dalam suasana penuh ketegangan lebih rentan membawa kecemasan dan kemarahan hingga dewasa.
Lebih jauh, sains modern menunjukkan bahwa trauma bisa meninggalkan jejak lintas generasi. Penelitian dalam bidang epigenetik menunjukkan bahwa pengalaman stres berat dapat memengaruhi ekspresi gen yang kemudian “dibaca” oleh generasi berikutnya. Dengan bahasa sederhana: emosi yang tidak selesai hari ini berpotensi menjadi beban emosional bagi anak di masa depan. Bukan karena anak mewarisi ‘nasib’, tetapi karena ia tumbuh dalam iklim emosi yang sama.
Rasulullah ﷺ memberi teladan kelembutan dalam relasi, khususnya kepada anak-anak. Diriwayatkan bahwa beliau mencium cucunya Hasan dan Husain. Ketika ada sahabat yang heran karena merasa jarang mencium anak, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar tentang gestur fisik kasih sayang, tetapi tentang kualitas hati yang lembut. Orang tua yang jiwanya keras karena luka masa lalu sering kesulitan menghadirkan rahmah. Bukan karena ia tidak tahu tentang kasih sayang, tetapi karena ia sendiri jarang merasakannya. Maka, re-parenting menjadi jalan untuk memulihkan kembali kelembutan hati yang tertutup oleh pengalaman pahit.
Re-parenting mengajak kita untuk berdialog dengan diri sendiri: luka apa yang belum selesai? kemarahan apa yang selama ini saya pendam? Dengan menyadari emosi yang tertahan, kita mulai memberi “pengasuhan” pada diri kita sendiri—memberi ruang untuk merasa, memaafkan, dan menenangkan batin. Proses ini tidak instan. Ia membutuhkan kesabaran, keberanian, dan sering kali kejujuran yang tidak nyaman.
Anak-anak tidak meminta orang tua yang bebas luka. Mereka hanya berharap orang tua yang mau bertanggung jawab atas lukanya sendiri. Ketika orang tua mulai menyembuhkan dirinya, mata rantai emosi yang menyakitkan perlahan terputus. Di situlah warisan baru terbentuk: bukan lagi warisan luka, melainkan warisan ketenangan.
(***)






