Ditengarai Mati Tak Wajar, Polisi Bongkar Makam Untuk Autopsi

  • 29 Mar 2019
  • Hukum
  • R Fajar Soenoe
  • 402
Gambar Ditengarai Mati Tak Wajar, Polisi Bongkar Makam Untuk Autopsi

Mapos, Majene – Makam Baharuddin bin Najamuddin di    Dusun Batu Taku Desa Onang Kecamatan Tubo Sendana Kabupaten Majene menurut rencana akan digali hari ini Jum’at 29 Maret 2019 untuk keperluan autopsi. Pasalnya, Baharuddin diduga kuat meninggal di Bungoro Kabupaten Pangkep pada tanggal 2 Januari 2019 akibat dianiaya.

Baharuddin diketahui meninggal dunia pada pukul 10.00 Wita oleh salah seorang keluarganya bernama Anto di Perumahan Bungoro Pangkep.

Kapolsek Sendana AKP Achmad Syarif Tola mengatakan, pihaknya bersama anggota Polres Pangkep sejak Kamis malam ke rumah Kepala Desa Onang, Dusun Batu Taku Desa Onang Kecamatan Tubo Sendana Kabupaten Majene untuk melakukan pertemuan bersama kedua Orang tua korban, tokoh agama dan tokoh masyarakat guna membicarakan rencana penggalian makam untuk keperluan autopsi.

“Autopsi perlu dilakukan untuk mengetahui sebab kematian korban. Sebelumnya, jenazah Baharuddin di pulangkan ke Majene tanpa dilakukan autopsi karena pihak keluarga termakan isu miring yang menyebut kalau mayat diuatopsi, pasti di acak-acak. Oleh keluarga pada waktu itu tidak mau. Setelah jenazah tiba, saat dimandikan, keluarga menemukan indikasi kematian tidak wajar. Ada lebam di bagian leher korban sepertinya patah,” sebut Achmad Syarif Tola.

Melihat kondisi jenazah Baharuddin, ibu korban tidak terima dan beberapa hari kemudian dia dan keluarga melapor ke Polres Pangkep.

“Makanya, hari ini tim forensik dari Polda Sulsel bersama anggota Polres Pangkep mengagendakan penggalian makam,” terang Achmad Syarif Tola seraya berharap tidak ada kendala selama penggalian makam berlangsung sebab dari hasil pertemuan semalam, hampir semua yang hadir memilih pasif.

Mereka menilai penggalian makam bertentangan dengan kebiasaan masyarakat setempat. Bahkan, ada yang menyebut jika makam digali akan terjadi musibah gempa dan sebagainya.

“Terpaksa kita berupaya sendiri karena masyarakat memilih pasif,” pungkas Achmad Syarif Tola.

(ipunk)