Dari Aksi Perawat, Maafkan Ibu Nak

  • 7 Des 2018
  • Opini
  • Sudirman Al Bukhori
  • 130
Gambar Dari Aksi Perawat, Maafkan Ibu Nak

Oleh: Muh. Sudirman Al Bukhari (Redaktur mamujupos.com)

Ratusan perawat honorer mengatasnamakan Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Mamuju. Mereka menuntut perbaikan nasib dengan memdatangi para pengambil kebijakan.

Dari pengakuan koordinator GNPHI, Anjas, selama ini dirinya dan honorer perawat lainnya hanya digaji Rp 400 ribu perbulan.

“Ingin sekali nasib kami berubah, karena itu kami menuntut agar disesuaikan dengan Upah Minimum Pekerja (UMP),” tutur Anjas.

Ditempat yang sama, dari ratusan perawat yang turut ikut dalam aksi, terlihat ada seorang ibu yang diketahui adalah perawat honorer. Ibu itu turut membawa bayinya dalam aksi tersebut.

Mungkin didalam hatinya, agar para pemangku kebijakan betul-betul serius memperhatikan nasib perawat. Bila tidak entah nasib kedepan mereka bagaimana.

Andaikan nasib mereka ditukar dengan para pengambilan kebijakan, mungkin hal itu akan sama yang dirasakan mereka.

Dari untaian semangatnya, keluh mendera disanubari ibu itu. Dengan lirih, wanita itu berkata maafkan ibumu nak, selama ini, ibu tak pernah bisa membahagiakan kamu, karena keterbatasan, kebodohan dan kenaifanku sebagai ibu.

Mengenang masa kecilmu melahirkan deraian airmata yang tak terbendung kini. Wajah polosmu, kelucuan tingkahmu, saat ini serasa tergambar jelas di pelupuk mataku.

Aku merindu masa-masa dulu. Dimana celotehmu kerap menghiburku manakala resah melanda hati ini. Tak jarang pelukan kecilmu redakan amarah yang sedianya meluap karena kenakalan-kenakalan kecilmu.

Maafkan ibu nak. Hingga seusiamu ini, aku belum mampu membahagiakanmu. Meski kau tak pernah meminta, aku tahu sejatinya kau ingin. Namun kau bocah manis, tak pernah sedikitpun kau menyusahkanku apalagi membantah setiap perkataanku.

Kau sangat mengetahui bagaimana hidup ibumu nak. Bagimu, aku tetap malaikat tempat meneduhkan semua keluhmu.

Masa kecilmu, kau sudah merasakan carut marut kehidupan. Kau hadapi dengan ketabahan dan keikhlasan sebagaimana kau dulu menghadapi kemarahan demi kemarahan ibumu.

Namun kini rasa sesal tak bisa memberimu lebih baik dari teman-temanmu senantiasa menggayuti jiwaku. Hanya untaian doa di setiap sujud dan diantara malam sunyi yang bisa ibu berikan untukmu. Untuk menemani langkahmu yang kini makin syarat oleh banyak tuntutan kehidupan.

Mungkin itulah yang dirasakan ibu itu. Dengan semangat memperjuangkan nasibnya dan ratusan teman-teman perawat lainnya.

Semoga para pengambil kebijakan dapat nerasakan keluh kesah mereka (perawat honorer).

(*)