Catatan Ngaji Umar Jumat

Oleh : Hajrul Malik *

Mapos, HARI ini kita masuk Bab 33 dari Riyadhush Shalihin karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi. Rasanya bukan sekadar pindah bab, tapi seperti ada perubahan arah. Kalau sebelumnya kita diajak menata hati—tentang sabar, ikhlas, dan hubungan dengan Allah—maka di sini kita seperti ditarik keluar, diminta melihat sekitar, melihat manusia, terutama mereka yang lemah.

Empat ayat yang dibaca terasa sederhana, tapi sebenarnya sangat dalam. Dimulai dari perintah merendahkan diri, yang bukan hanya soal sopan santun, tapi soal meruntuhkan ego. Selama seseorang masih merasa lebih tinggi, sulit baginya benar-benar peduli. Lalu datang ayat yang mengingatkan agar tidak berpaling dari orang-orang sederhana hanya karena tergoda dunia. Ini seperti teguran halus, tapi sangat relevan—karena tanpa sadar kita sering lebih dekat dengan yang punya kekuasaan, dan perlahan menjauh dari yang lemah.

Kemudian ayat tentang anak yatim dan orang yang meminta. Di sini terasa sekali bahwa Islam tidak hanya mengatur apa yang kita beri, tapi bagaimana cara kita bersikap. Bahkan membentak saja tidak dibenarkan. Artinya, kepedulian itu bukan hanya materi, tapi juga rasa, sikap, dan cara memperlakukan manusia dengan martabat.

Dan puncaknya ada pada Al-Ma’un. Ayat ini terasa mengguncang, karena ukuran agama justru diletakkan pada sikap terhadap anak yatim dan orang miskin. Bukan dimulai dari ibadah ritual, tapi dari keberpihakan sosial. Seakan Allah ingin menegaskan bahwa iman yang tidak terasa manfaatnya bagi orang lain, perlu dipertanyakan.

Di titik ini, kita diingatkan pada Ahmad Dahlan yang tidak berhenti pada membaca ayat. Beliau mengulang Al-Ma’un, bukan untuk dihafal, tapi untuk diamalkan. Bahkan sampai pada tahap yang lebih jauh—melalui Muhammadiyah—ayat itu berubah menjadi gerakan nyata. Sekolah berdiri, rumah sakit hadir, anak yatim terurus. Di sini terasa bahwa iman itu tidak cukup diyakini atau diamalkan secara pribadi, tapi harus diorganisir, dihadirkan dalam bentuk yang lebih luas dan berkelanjutan.

Saya merasa, kajian hari ini seperti cermin yang jujur. Ia tidak bertanya seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa jauh kita peduli. Jangan-jangan selama ini kita terlalu nyaman dalam ibadah personal, tapi belum cukup hadir dalam urusan sosial. Padahal agama ini mengajarkan keseimbangan—menghubungkan langit dengan kehidupan nyata.

Mungkin itu yang paling tertinggal dari ngaji hari ini. Bahwa setelah hati ditata, langkah harus diarahkan. Dan ukuran agama kita, pada akhirnya, bukan hanya pada hubungan kita dengan Allah, tetapi juga pada bagaimana kita memperlakukan manusia—terutama mereka yang paling membutuhkan.

Bersambung…

 

(***)

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulbar
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...