BKD dan BPJS Gelar Sosialisasi Skrining Riwayat Kesehatan

Mapos, Mamuju — Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sulbar, Bujaeramy Hasan mengungkapkan pentingnya kegiatan skrining riwayat kesehatan bagi pegawai Badan Kepegawaian Daerah.

Kegiatan tersebut dilakukan di Ruang Rapat BKD Provinsi Sulbar dan diikuti oleh seluruh pejabat struktural, fungsional dan pelaksana. Hasan mengatakan, kegiatan sosialisasi skrining riwayat kesehatan dari BPJS Kesehatan merupakan layanan penapisan agar risiko penyakit tertentu dapat terdeteksi, sehingga dampak lanjutan dari penyakit bisa diminimalisir.

“Sosialisasi ini dilakukan agar pegawai BKD mengetahui kondisi kesehatannya, juga menghemat waktu karena tidak harus meninggalkan kantor untuk melakukannya,” ungkapnya.

Selain itu menurut Hasan, apabila gambaran riwayat kesehatan sudah diketahui oleh para pegawai BKD, selanjutnya dapat dengan mudah dilakukan pengecekan tindak lanjut ke fasilitas kesehatan. Apabila hasilnya sudah baik pun, setiap pegawai dapat terus menjaga kesehatannya.

“Sosialisasi tersebut juga bermanfaat untuk BKD sendiri dalam memperoleh gambaran profil kesehatan seluruh pegawai,” sambung Hasan.

Ia juga berharap setelah kegiatan sosialisasi dilakukan, seluruh pegawai BKD dapat secara mandiri melakukan skrining riwayat kesehatan. Karena skrining riwayat kesehatan menurutnya mudah dan dapat dilakukan melalui aplikasi Mobile JKN. Aplikasi tersebut dapat di unduh melalui Play store atau App store.

“Dengan aplikasi mobile JKN, para pegawai dapat melakukan skrining riwayat kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu pada kesempatan terpisah, Kepala Cabang Mamuju BPJS Kesehatan, St. Umrah Nurdin mengungkapkan kegiatan skrining riwayat kesehatan merupakan upaya promotif preventif pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan dari program ini adalah agar peserta jaminan kesehatan bisa langsung mengetahui risiko kesehatan setelah menjawab seluruh pertanyaan.

“Kuncinya adalah mengisi dengan data sebenarnya. Apabila data yang diisi sesuai, maka hasil nantinya akan akurat,” ucapnya.

Dengan melakukan skrining, dapat diketahui tingkat risiko penyakit peserta, mulai dari tingkat rendah, sedang, sampai tinggi. Bila hasilnya berisiko rendah, maka peserta disarankan untuk menjaga pola hidup sehat dengan beraktivitas fisik secara rutin. Tapi jika berisiko sedang atau tinggi, peserta disarankan berkunjung ke fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk berkonsultasi dengan dokter.

“Kalau hasil skrining menunjukkan risiko rendah, dianjurkan menjalani pola hidup sehat. Tapi kalau risikonya sedang atau tinggi, peserta diminta untuk segera ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk dilakukan pemeriksaan oleh dokter,” katanya.

Manfaat adanya skrining riwayat kesehatan, FKTP akan mengetahui kondisi kesehatan para pasiennya. Sebaliknya, manfaat akan dirasakan oleh peserta supaya mendapatkan penanganan cepat dan tepat. Selain itu, peserta dapat mencegah sebelum kesehatannya jatuh pada kondisi terburuk sehingga menambah angka harapan hidup menjadi panjang.

“Dampak dari penyakit kronis yang tidak terkelola, akan memicu penyakit-penyakit lainnya. Selain kondisi kesehatan peserta memburuk, biaya kesehatan yang dikeluarkan untuk pengobatan juga dapat membengkak,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan kepada pegawai BKD dan peserta Jaminan Kesehatan Nasional secara keseluruhan agar segera melalukan skrining riwayat kesehatan untuk mengetahui potensi risiko penyakit kronis.

“Skrining tersebut untuk mengetahui potensi risiko empat penyakit kronis, yakni diabetes melitus (DM), ginjal kronik, hipertensi, dan jantung koroner,” paparnya.
Umrah juga menjelaskan untuk skrining riwayat kesehatan ini dapat dilakukan secara mandiri melalui Aplikasi Mobile JKN, website, Chat Assistant JKN (Chika) atau datang langsung ke fasilitas kesehatan (faskes). Skrining penting dilakukan peserta JKN, minimal setahun sekali.

“Skrining perlu dilakukan peserta JKN agar membudaya di masyarakat,” pungkasnya.

(*/adv)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...