BI Optimis Prospek Ekonomi Sulbar. Ini Rekomendasinya

Gambar BI Optimis Prospek Ekonomi Sulbar. Ini Rekomendasinya

Mapos, Mamuju – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat, Budi Sudaryono, optimis bahwa prospek ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2020 diperkirakan meningkat pada kisaran 4,8 – 5,2% (yoy) dengan Inflasi yang terkendali pada sasaran target 3 ± 1%.

Untuk mencapai angka proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, Bank Indonesia merekomendasikan 3 (tiga) strategi yang diarahkan pada sektor perkebunan, perikanan, dan pariwisata.

Pertama, mendorong pengembangan hilirisasi kelapa sawit yang diarahkan kepada industri oleofood, oleochemical, dan biofuel serta replanting tanaman tua dengan orientasi intensifikasi lahan.

Kedua, mendorong perkembangan sektor perikanan melalui pembangunan infrastruktur pelabuhan, pabrik es, dan lainnya untuk mendukung distribusi dan pengolahan ikan.

Ketiga, perlu adanya perbaikan 3A yaitu amenitas, aksesibilitas dan atraksi yang diharapkan dapat memperkuat branding wilayah sebagai destinasi wisata unggulan,” ungkap Budi Sudayono dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Sulawesi Barat 2019, Kamis (05/12/2019), di hotel Maleo Mamuju.

Kepala BI Perwakilan Sulbar, Budi Sudaryono

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia diselenggarakan rutin setiap akhir tahun untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia mengenai kondisi ekonomi terkini, tantangan dan prospek ekonomi kedepan, serta arahan kebijakan Bank Indonesia tahun 2020. Tema yang diangkat pada PTBI 2019 adalah “Sinergi, Transformasi, dan Inovasi : Menuju Indonesia Maju”.

Pertemuan dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Kapolda Sulawesi Barat, Ketua DPRD Sulawesi Barat, Ketua BPK Sulawesi Barat, pimpinan perbankan dan korporasi nonbank, akademisi, pengamat ekonomi, serta perwakilan sejumlah Lembaga/instansi vertikal.

Lebih lanjut, Budi memaparkan kondisi ekonomi Sulawesi Barat yang sedang menghadapi beragam tantangan. Disebutkan, harga komoditas yang tidak kompetitif dan produksi yang tidak optimal diperkirakan akan berdampak pada tertahannya laju pertumbuhan sektor pertanian yang merupakan mesin penggerak ekonomi Sulawesi Barat.

“Tantangan lainnya berasal dari ketidakpastian ekonomi global yang berimbas pada sikap swasta yang memilih menunda investasi,” ungkapnya.

Selain memperkuat sektor primer, Bank Indonesia menilai adanya urgensi untuk mendorong sumber pertumbuhan baru dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata dapat dikembangkan sebagai suplemen ekonomi Sulawesi barat. Overtourism yang terjadi pada destinasi mainstream seperti Bali dan Lombok menjadi peluang untuk mengarahkan wisatawan ke Sulawesi Barat.

Potensi perikanan juga tidak kalah prospektif. Wilayah perikanan Sulawesi Barat masih menyimpan potensi produksi ikan yang melimpah.

“Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, rencana pemindahan ibu kota berpotensi meningkatkan daya tarik investasi Sulawesi Barat sebagai provinsi penyangga,” katanya.

(*)

Baca Juga