Mapos, Mamuju – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rekomendasi Core Competence Berbasis Komoditas Kakao dan Kopi, Selasa (28/7/2026), di Ruang Rapat RPJMD Bapperida Sulbar.
Forum ini menjadi langkah strategis untuk merumuskan arah pengembangan komoditas unggulan yang mampu mempercepat transformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing Sulawesi Barat.
FGD yang diadakan oleh Direktorat Pembangunan Indonesia Timur, Kementerian PPN/Bappenas, menghadirkan perwakilan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, akademisi, pelaku usaha, industri, dan tim ahli.
Diskusi difokuskan pada penyusunan rekomendasi core competence berbasis kakao dan kopi sebagai komoditas unggulan Sulawesi Barat yang dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam pengantarnya, tim Bappenas menjelaskan bahwa penyusunan core competence merupakan bagian dari implementasi agenda transformasi ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Sulawesi Barat diarahkan memperkuat ekosistem komoditas unggulan agar mampu mendukung peningkatan kontribusi kawasan timur Indonesia terhadap perekonomian nasional sebagaimana ditargetkan dalam Visi Indonesia Emas 2045.
Tim konsultan Bappenas memaparkan bahwa kajian dilakukan melalui pendekatan yang menilai potensi sumber daya, kemampuan daerah mengelola dan mengembangkan industri, serta kesiapan memenuhi kebutuhan pasar.
Hasil kajian menunjukkan sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian Sulawesi Barat dengan kontribusi sekitar 46,11 persen, sementara industri pengolahan baru berkontribusi sekitar 10,41 persen. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya kesenjangan antara kapasitas produksi dan penciptaan nilai tambah di dalam daerah, sehingga sebagian besar manfaat ekonomi komoditas unggulan masih dinikmati di luar Sulawesi Barat.
Berdasarkan hasil penilaian berbagai indikator, tim Bappenas menetapkan kakao dan kopi sebagai komoditas yang paling potensial dikembangkan menjadi core competence Provinsi Sulawesi Barat.
Kakao dinilai memiliki potensi besar dengan luas areal sekitar 140,9 ribu hektare, namun masih terdapat potensi kehilangan nilai (value loss) akibat produktivitas yang belum optimal. Hal serupa juga ditemukan pada komoditas kopi yang masih memiliki ruang peningkatan produktivitas melalui penguatan budidaya, pascapanen, dan industri pengolahan.
Selain mengidentifikasi potensi komoditas, FGD juga membahas berbagai tantangan pengembangan kakao dan kopi, mulai dari produktivitas kebun, kualitas hasil panen, penguatan kelembagaan petani, teknologi pengolahan, pembangunan infrastruktur produksi dan logistik, akses pembiayaan, investasi, hingga peluang perluasan pasar dan ekspor. Seluruh masukan dari peserta akan menjadi bagian dari rekomendasi yang disusun Bappenas sebagai acuan pengembangan core competence Sulawesi Barat.
Membuka kegiatan tersebut, Kepala Bapperida Provinsi Sulawesi Barat, Drs. Amujib, M.M., menegaskan bahwa penyusunan core competence harus menghasilkan rekomendasi yang dapat diimplementasikan dalam perencanaan pembangunan daerah.
Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki modal yang kuat melalui produksi kakao dan kopi. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan hasil produksi, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi nilai tambah melalui hilirisasi, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan petani.
“Kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai sebuah kajian. Hasilnya harus menjadi dasar untuk menentukan keunggulan yang benar-benar mampu menjadi mesin percepatan pembangunan Sulawesi Barat,” ujar Amujib.
Ia menambahkan bahwa arah pengembangan kakao dan kopi selaras dengan implementasi Panca Daya sebagai strategi pembangunan Provinsi Sulawesi Barat yang ditetapkan Gubernur Sulbar, Dr. H. Suhardi Duka, M.M.
Melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur pendukung, dan tata kelola yang kolaboratif, komoditas unggulan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
FGD ditutup dengan penyampaian berbagai rekomendasi strategis yang akan diperdalam melalui kajian Bappenas. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan yang mendorong lahirnya industri kakao dan kopi yang berdaya saing, memperkuat investasi, serta meningkatkan kesejahteraan petani di Sulawesi Barat.
Sebagai bagian dari rangkaian penyusunan rekomendasi core competence, tim Bappenas melakukan kunjungan lapangan ke sentra produksi dan UMKM pengolahan kakao serta kopi di Kabupaten Mamuju usai kegiatan FGD. Kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Polewali Mandar pada Rabu (29/7/2026) guna melihat secara langsung kondisi hulu hingga hilir, sekaligus menghimpun masukan dari para pelaku usaha dan pemangku kepentingan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan.
(*)






