Anak-Anak Menjadi Korban Emosi Orang Tuanya

Secangkir Kopi

Oleh : Hajrul Malik *

 

Mapos, DIBANYAK  rumah, anak-anak tumbuh dalam suasana yang tidak selalu ramah bagi jiwanya. Bukan karena orang tua tidak mencintai, melainkan karena emosi orang tua sering kali datang tanpa disadari. Lelah bekerja, tekanan ekonomi, konflik pasangan, dan beban hidup yang tak sempat diurai, menumpuk menjadi amarah yang mencari saluran. Anak -makhluk yang paling dekat, paling lemah, dan paling bergantung- sering menjadi tempat tumpahan emosi itu.

Ironisnya, banyak orang tua tidak pernah berniat melukai. Mereka justru ingin anaknya tumbuh baik, patuh, dan berakhlak. Namun antara niat dan kenyataan, sering terbentang jarak yang jauh. Nasihat keluar dari mulut, tetapi amarah memancar dari hati. Anak tidak hanya mendengar kata-kata orang tuanya; ia merasakan suasana batin orang tua itu. Ketika nasihat dibungkus emosi yang panas, yang diterima anak bukan kasih sayang, melainkan tekanan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketenangan batin adalah fondasi utama kehidupan manusia:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28)

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang lisannya mengingat Tuhan, tetapi hatinya tetap gelisah. Zikir diucapkan, ibadah dijalankan, tetapi emosi masih mudah meledak di rumah. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas belum sepenuhnya turun dari kepala ke tubuh, dari pengetahuan ke ketenangan batin. Ilmu menjadi terang di pikiran, tetapi belum menjadi cahaya di dalam sikap.

Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan bahwa ukuran kekuatan sejati bukan pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan mengendalikan diri sendiri:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat relevan dalam konteks pengasuhan. Banyak orang tua merasa ‘berkuasa’ atas anak karena posisi dan peran. Padahal, kekuatan sejati dalam parenting adalah kemampuan mengelola emosi ketika anak berbuat salah. Di situlah karakter orang tua diuji. Amarah yang tidak dikelola bukan hanya melukai perasaan anak, tetapi perlahan membentuk iklim emosional rumah yang tidak aman.

Psikologi modern menegaskan bahwa anak belajar regulasi emosi bukan dari ceramah, melainkan dari teladan. Daniel Goleman, tokoh yang mempopulerkan konsep Emotional Intelligence, menyebut bahwa kecerdasan emosi – kemampuan mengenali dan mengelola perasaan – lebih menentukan kualitas hubungan manusia dibandingkan kecerdasan intelektual semata. Anak yang tumbuh bersama orang tua yang reaktif cenderung meniru pola yang sama: mudah meledak, sulit menenangkan diri.

Di sisi lain, penelitian tentang trauma lintas generasi menunjukkan bahwa luka batin orang tua sering “diturunkan” dalam bentuk pola asuh. Orang tua yang dibesarkan dalam suasana keras cenderung, tanpa sadar, mengulang kekerasan emosional yang sama. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena itulah bahasa emosi yang mereka kenal sejak kecil. Di sinilah anak menjadi korban dari emosi orang tua yang tidak pernah selesai dibereskan.

Al-Qur’an juga mengingatkan orang tua agar menjaga keluarganya dari kebinasaan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Tahrim: 6)

Menjaga keluarga bukan semata memberi nafkah atau mengajarkan ibadah, tetapi juga menciptakan lingkungan emosional yang sehat. Rumah yang penuh teriakan, ancaman, dan caci maki bisa menjadi “neraka kecil” bagi jiwa anak. Sebaliknya, rumah yang diwarnai ketenangan, dialog, dan penerimaan akan menjadi tempat bertumbuhnya rasa aman.

Maka, langkah pertama dalam re-parenting adalah kejujuran pada diri sendiri: mengakui bahwa emosi kita belum sepenuhnya matang. Kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, tetapi kita perlu menjadi orang tua yang jujur—jujur pada luka, lelah, dan ketakutan di dalam diri. Dengan mengenali diri, kita mulai menghentikan pola lama yang selama ini kita warisi.

Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar. Mereka membutuhkan orang tua yang mau belajar mengelola emosinya. Sebab ketika orang tua mulai menenangkan dirinya sendiri, pada saat itulah rumah perlahan berubah menjadi ruang aman. Dan di ruang aman itulah, anak-anak bisa tumbuh tanpa harus menjadi korban dari emosi orang tuanya.

(***)

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulbar
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...