Al Faruq, Pemimpin yang Dirindukan

0
1385

Mapos, Di satu malam yang dingin, ditengah guyuran hujan. Saat duduk di beranda sembari menikmati teh hangat, tiba-tiba dada berdegub lebih kencang. Muncul kerinduan pada sosok seorang pemimpin. Yang setiap keputusan dan sikapnya tidak debatable. Hingga malaikat kubur pun tidak mampu membantahnya.

Sela helaan nafas panjang samar-samar terbersit satu nama yang pernah mengguncangkan dunia, menggetarkan langit. Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhu.

Tangan pun mulai menggenggam telepon genggam. Berselancar mencari artikel-artikel yang cocok dengan kerinduan itu.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

Sampailah pada satu artikel yang menentramkan. Mengobati rindu dan berdoa…memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar disegerakan lahir sosok pemimpin yang shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Berdiri di atas kebenaran hakiki.

Pada suatu sore menjelang Maghrib, Khalifah Umar bin Khattab melangkahkan kaki menuju Masjid Nabawi di Madinah. Langit di ufuk barat mulai berwarna semburat kemerahan karena sang surya sebentar lagi tenggelam. Pelepah kurma di kebun-kebun penduduk melambai-lambai dihembus angin senja Kota Nabi.

Tiba-tiba Umar bergumam, “Andai aku menjadi seperti pohon kurma, jika nanti mati tidak akan dipersoalkan lagi.” Sang Khalifah yang dijuluki Amirul Mukminin itu sadar bahwa manusia nanti setelah mati akan dibangkitkan lagi. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan di dunia.

Apabila mengingat hal itu, Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dijamin surga itu takut hingga membuat air matanya mengalir. Hingga suatu ketika, Aslam pembantunya bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?.

“Aku takut akan siksa kubur dan azab neraka,” jawab Umar.

“Bukankah engkau sudah dijamin surga?” Aslam bertanya lagi.

Umar pun menjawab bahwa dirinya akan mendapatkan hukuman terlebih dulu jika melakukan kesalahan, kecuali mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Engkau tak pernah melakukan kesalahan. Wahai sang Khalifah, Engkau adalah pemimpin yang adil,” kata Aslam.

“Sebagai pemimpin, di akhirat nanti aku akan ditanya tentang kepemimpinanku. Bagaimana seandainya masih ada rakyat yang tidak mendapat pembelaan, lalu di akhirat kelak mereka menuntut keadilan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?” kata Umar bin Khattab.

Demi memastikan semua rakyat telah terpenuhi hak-haknya dan mendapat keadilan, Umar bin Khattab kerap melakukan ‘blusukan’ di tengah malam. Seorang diri dan tanpa pengawalan. Sahabat yang mendapat gelar Al Faruq dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu membelah dinginnya angin malam Kota Madinah.

Di waktu yang seharusnya dia bisa beristirahat di tempat tidur mewah dan nyaman, Umar bin Khattab memilih ‘blusukan’ memastikan tak ada rakyat yang kelaparan. Suatu malam saat kelelahan, dia beristirahat di ujung sebuah lorong di dekat rumah kecil.

Meski sayup, Umar bin Khatab mendengar suara seorang wanita dari dalam rumah kecil itu. “Wahai Tuhan, kehidupan kami diimpit kemiskinan. Namun, Khalifah Umar bin Khattab tidak pernah peduli kepada kami,” suara sang wanita dari dalam rumah.

“Jangan mengeluh wahai Ibuku. Sesungguhnya, Tuhan itu Maha Adil. Dia memberikan kita rezeki walaupun tidak dibantu oleh Khalifah Umar bin Khattab,” suara wanita lain terdengar menimpali.

Perlahan Umar bin Khattab tahu bahwa di rumah itu tinggal seorang ibu bersama dengan anak gadisnya. Dia menyesal karena tidak pernah sampai di tempat ini untuk membantu keluarga miskin tersebut.

Umar kembali mendengar percakapan dari dalam rumah kecil itu. “Tadi sore ibu memerah susu kambing. Besok, ibu akan membawa susu itu ke pasar. Semoga kita bisa membeli sedikit makanan dan keperluan kita,” kata sang Ibu.

“Saya doakan semoga besok ada orang yang membeli susu kambing kita. Jika ada uang yang tersisa setelah membeli bahan makanan dan keperluan kita, semoga ibu bisa membelikanku pakaian. Pakaianku yang ada sudah robek. Aku malu memakainya keluar rumah,” kata sang anak gadis.

Hati Umar bin Khattab kian tersayat. Dia merasa sedih mendengar ucapan gadis itu.

“Sebelum tidur, jangan lupa masukkan susu itu ke dalam botol. Besok pagi, Ibu akan membawanya ke pasar.” Suara wanita itu jelas terdengar oleh Umar bin Khattab.

“Baiklah, Ibu, aku masukkan sekarang,” sahut anak gadisnya.

Namun tiba-tiba, susu yang dituangkan ke dalam botol itu tumpah ke lantai. Dengan perasaan menyesal, gadis itu berkata, “Maafkan aku, Ibu, karena susu yang aku tuangkan tumpah ke lantai. Jadinya tinggal separuh.”

Dengan kesal, Ibunya berkata, “Wahai anakku, kita memerlukan uang untuk membeli makanan dan pakaianmu. Dengan susu yang sedikit itu, tentu tidak akan cukup.”

“Wahai Ibu, apa yang harus aku lakukan?” Ucap anak itu sedih.

“Campurkan susu itu dengan air agar bertambah banyak.” suruh ibunya

Namun gadis itu tidak mau. Kepada sang ibu, dia menyampaikan pesan Umar bin Khattab bahwa manusia harus senantiasa bersikap jujur. Mendengar hal itu, Umar pun beristigfar.

Keesokan harinya, Umar bin Khattab menyuruh Aslam, pembantunya pergi ke rumah wanita tersebut. Sang khalifah meminta kedua perempuan itu menemuinya.

Umar bin Khattab terpikat dengan kejujuran gadis yang kemudian diketahui bernama Fatimah tersebut. Umar pun meminang Fatimah untuk dinikahkan dengan salah satu putranya Ashim.

Tidak lama setelah itu, Ashim dan Fatimah pun menikah. Mereka hidup bahagia. Khalifah Umar bin Khattab pun sangat sayang kepada Ashim dan Fatimah. Umar senantiasa memanjatkan doa, “Wahai Tuhan, alangkah bahagianya jika ada dari keturunanku mengisi dunia ini dengan keadilan, sebagaimana dunia ini dipenuhi kezaliman.”

Pada akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa Umar. Ashim dan Fatimah memiliki anak perempuan cantik bernama Laila yang ketika dewasa menikah dengan Abdul Aziz. Dari pernikahan tersebut Laila dan Abdul Aziz dikaruniai putra bernama Umar bin Abdul Aziz yang kelak menjadi khalifah.

Setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab adalah teladan berikutnya bagi para pemimpin. Banyak kisah keteladannya yang bisa dicontoh oleh para pemimpin. Dan pada dasarnya kita semua adalah pemimpin, sebagaimana Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wasallam bersabda :

«كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya. Penguasa adalah pemimpin bagi manusia, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang harta yang diurusnya. Ingatlah, masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR. Muslim)

Menjadi pemimpin seperti Umar bin Khatab mungkin tak mudah, tapi setidaknya kita berusaha agar bisa berlaku adil terhadap yang kita pimpin. Berdoa kita agar senantiasa mendapatkan petunjuk kebenaran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ

“Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya dan nampakkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan seluruhnya di dunia maupun di akhirat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan seluruhnya di dunia maupun akhirat, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui.”

Wallahualam Bishawab

(*)

Penulis : Herman Mochtar
Wakil Ketua I PWI Sulawesi Barat
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.