Ternyata Asap dari Bawah Tanah di Botteng Itu Berasal dari Sisa Pembakaran Sampah

Mapos, Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons cepat isu viral mengenai fenomena tanah mengeluarkan asap di Desa Botteng, Kabupaten Mamuju. Tim Bidang Geologi dan Air Bawah Tanah Dinas ESDM Sulbar diturunkan langsung ke lokasi dengan didampingi oleh tim teknis dari PT Perminas guna melakukan verifikasi dan peninjauan geologi secara menyeluruh, Senin (19/10/2026).

Berdasarkan hasil observasi permukaan, pra-studi geologi regional, dan pemeriksaan struktur tanah, tim memastikan bahwa fenomena keluarnya asap tersebut murni dampak aktivitas penimbunan sisa pembakaran sampah dan bukan merupakan manifestasi geologi aktif seperti geotermal, aktivitas vulkanik, maupun pembakaran lahan gambut.

Kepala Bidang Geologi dan Air Bawah Tanah Dinas ESDM Sulbar, Wisnu Hasta Praja memberikan penjelasan teknis mengenai hasil observasi tim di lapangan.

“Berdasarkan hasil pra-studi regional dan overlay peta jenis tanah, lokasi ini tergolong jenis Podsolik Merah Kuning, bukan lahan gambut. Kami juga tidak menemukan adanya indikasi manifestasi hidrotermal atau geotermal seperti fumarol maupun alterasi batuan. Kepulan asap yang muncul murni akibat proses pembakaran anaerobik dari sampah yang tertimbun tanah. Kami mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring dan membagikan informasi di media sosial, serta mengonfirmasi fenomena alam yang tidak biasa kepada instansi berwenang agar tidak menimbulkan persepsi atau keresahan di tengah publik,” papar Wisnu.

Informasi dari warga setempat, Pendi dan Fadhillah, mengungkapkan bahwa area tersebut awalnya merupakan lokasi pembibitan tanaman kakao. Namun, seiring berjalannya waktu, area tersebut juga sering dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah, baik bekas polibag pembibitan maupun sampah rumah tangga dari masyarakat sekitar.

Fadhillah, warga yang membakar dan menimbun sampah di lokasi tersebut, turut menyampaikan keterangannya secara langsung kepada tim verifikasi.

“Awalnya saya hanya membakar sampah bekas polibag dan sampah plastik di tempat ini. Karena apinya makin membesar dan saya khawatir apinya menjalar ke area perkebunan durian di sekitarnya, jadi saya inisiatif menutupi dan menimbun sisa pembakaran itu memakai tanah supaya mati. Nah kemudian, anak-anak yang bermain di sekitar situ menusuk-nusuk tanah timbunan pakai kayu sampai berlubang, makanya asapnya jadi keluar lewat lubang-lubang itu dan direkam sampai viral,” ujar Fadhillah.

Proses penimbunan tanah di atas sampah yang masih membara menyebabkan pembakaran berlangsung tanpa udara cukup (anaerobik), sehingga menghasilkan asap dan hawa panas yang keluar melalui pori-pori tanah. Guna menuntaskan masalah tersebut, tim merekomendasikan agar warga membongkar timbunan tanah dan memadamkan sisa bara sampah secara tuntas menggunakan air hingga suhu tanah kembali normal.

(*)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...