Mapos, Majene – Kinerja Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kabupaten Majene pada Minggu Epidemiologi (ME) ke-24 Tahun 2026 menunjukkan hasil yang sangat baik.
Seluruh fasilitas kesehatan pelapor berhasil mencapai tingkat ketepatan dan kelengkapan laporan sebesar 100 persen, menandakan sistem surveilans kesehatan di daerah ini berjalan optimal dalam mendukung deteksi dini serta respon cepat terhadap potensi kejadian penyakit.
Berdasarkan Buletin SKDR Kabupaten Majene, sebanyak 13 unit pelapor menyampaikan laporan secara lengkap dan tepat waktu. Dari hasil pemantauan, tercatat sembilan kejadian berstatus siaga SKDR dan seluruhnya berhasil diverifikasi dalam waktu kurang dari 24 jam.
Tidak terdapat satu pun kejadian yang belum terverifikasi, sementara enam unit pelapor yang berada pada status siaga juga telah melakukan respon sesuai standar yang ditetapkan, sehingga capaian respon penanganan mencapai 100 persen.
Data Penyakit Berbasis Indikator (Indicator Based Surveillance/IBS) menunjukkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 227 kasus. Posisi berikutnya ditempati Diare Akut dengan 69 kasus. Selain itu, tercatat enam kasus Suspek Demam Tifoid, enam kasus Pneumonia, serta tiga kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR).
Jika ditinjau berdasarkan wilayah kerja puskesmas, Puskesmas Totoli mencatat jumlah kasus ISPA terbanyak dengan 43 kasus. Disusul Puskesmas Sendana I dan Puskesmas Banggae I yang masing-masing melaporkan 32 kasus, kemudian Puskesmas Banggae II sebanyak 28 kasus, serta Puskesmas Lembang dengan 24 kasus.
Sementara itu, melalui pemantauan Surveilans Berbasis Kejadian (Event Based Surveillance/EBS), terdapat tiga laporan rumor yang seluruhnya telah diverifikasi. Tidak ada laporan yang masih dalam proses penyelidikan maupun yang dinyatakan dihapus. Hasil verifikasi menunjukkan dua kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan satu kasus Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD).
Seluruh kasus tersebut dilaporkan tanpa adanya kematian, dan satu di antaranya telah ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian.
Capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya sistem kewaspadaan dini di Kabupaten Majene. Keberhasilan dalam menjaga ketepatan pelaporan, mempercepat proses verifikasi, serta memastikan respon terhadap setiap sinyal kewaspadaan menjadi faktor penting dalam mencegah berkembangnya potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pemerintah Kabupaten Majene melalui jejaring surveilans kesehatan terus mengajak seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular. Dengan pelaporan yang cepat, deteksi yang akurat, serta respon yang tepat waktu, upaya perlindungan kesehatan masyarakat dapat terus diperkuat sesuai semangat SKDR, “Deteksi Dini, Respon Cepat, Lindungi Masyarakat.”
(*)






