Rusman Pengantar MBG dan ‘Superhero’ Kecil dari Aralle

Mapos, Mamasa – Pagi di Aralle selalu dimulai dengan dingin yang menggigit, tapi di dapur kecil program Makanan Bergizi Gratis (MBG), kehangatan justru datang dari seorang pria sederhana bernama Rusman. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak menuntut. Tapi setiap hari, langkahnya membawa dampak yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Rusman bekerja di dapur MBG Aralle, membantu meracik, mengemas, dan kemudian mengantar makanan bergizi ke sekolah-sekolah di pelosok Mamasa. Mobil MBG menjadi saksi betapa sering ia menembus kabut, hujan, atau panas demi memastikan anak-anak mendapatkan makan tepat waktu. Namun di beberapa lokasi, mobil itu harus berhenti. Jalan terjal, jurang di kiri-kanan, atau tanah liat yang licin memaksanya berjalan kaki sambil memikul kotak makanan di punggung.

“Kalau jalannya tidak bisa dilewati, ya saya jalan saja,” katanya pelan, seolah beban itu tidak berat.

Padahal, hanya ia yang tahu seberapa jauh ia melangkah dan seberapa besar tenaga yang ia keluarkan.

Yang membuat kisahnya berbeda adalah satu kebiasaan unik. Setiap beberapa minggu, Rusman muncul di sekolah bukan dengan pakaian biasanya, tetapi dengan kostum pahlawan super. Kadang topeng, kadang jubah plastik sederhana. Siswa-siswa langsung bersorak saat melihatnya datang.

“Anak-anak senang kalau saya pakai kostum. Mereka tertawa, jadi saya juga ikut bahagia,” katanya sambil tersenyum malu.

Di mata anak-anak itu, Rusman memang seperti superhero datang dengan makanan, datang dengan semangat.

Namun perjuangan Rusman bukan hanya untuk anak-anak sekolah. Ia adalah seorang ayah muda dari seorang anak laki-laki berusia empat tahun. Dan di situlah inti kisah ini berada.

Rusman hanya mengenyam pendidikan sampai kelas enam Madrasah DDI Baitang,Aralle. Bukan karena ia tidak ingin bersekolah, tetapi karena ekonomi keluarga yang tak pernah benar-benar memberi ruang untuk pilihan. Ia tumbuh dalam keterbatasan, dan hal itulah yang secara tak sadar membentuk mimpinya.

“Anak saya harus sekolah lebih tinggi dari saya. Kalau bisa sampai sarjana,”ucapnya pelan, tapi tegas.

Setiap langkahnya memikul kotak makanan, setiap tetes keringat di jalan berlumpur, setiap pagi yang ia mulai lebih awal dari matahari semuanya adalah bentuk kecil dari cita-cita besar: agar putranya kelak memiliki masa depan yang ia tidak pernah punya.

Dan mungkin itu pula yang membuatnya terus bertahan. Pekerjaan yang melelahkan ini ia jalani dengan keikhlasan, dengan keyakinan bahwa apa yang ia lakukan hari ini akan berbuah baik, entah bagi anak-anak di sekolah atau bagi anaknya sendiri.

Di dunia yang sering memuja mereka yang tampil di panggung besar, Rusman mengingatkan bahwa terkadang, pahlawan justru muncul dari dapur sederhana, dari jalan-jalan kecil di Aralle, atau dari lelaki yang berjalan kaki sambil memikul kotak makanan untuk anak-anak yang mungkin bahkan belum tahu namanya.

Dan di beberapa hari tertentu, pahlawan itu benar-benar memakai kostum.

(Sri/*)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...