Mapos, Topoyo – Miris. Ditengah gencarnya pemerintah pusat meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di berbagai daerah di tanah air, di Kabupaten Mamuju Tengah, ribuan warga Desa Salule’bo’ Kecamatan Tobadak terpaksa menyeberangi sungai berarus deras menggunakan rakit.
Mereka harus rela menerobos derasnya arus sungai dengan lebar kurang lebih 100 meter. Padahal jarak Desa Salule’bo dengan ibu kota pemerintahan Kabupaten Mamuju Tengah hanya berkisar 30 kilometer.
Tak hanya itu, warga yang akan menyeberang juga harus rela merogo kocek mereka sebesar Rp7.500 sampai dengan Rp15 untuk satu kali menyeberang. Sementara petani yang hendak menjual hasil bumi ke ibu kota Kabupaten Mamuju Tengah harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membayar pengemudi rakit.
Rustang warga salule’bo’ mengaku, kondisi ini sudah dirasakan warga sekitar puluhan tahun silam.
“Jalur ini dugunakan ribuan warga Desa Salule’bo’ untuk menyeberang. Biaya penyebarangan tergantung kondisi air sungai,” katanya.
Sementara Andi pemilik rakit mengaku mendapat penghasilan mulai dari Rp500 sampai dengan Rp1,5 juta per hari. Tergantung dari banyaknya penyeberang
“Pemasukan tergantung dari banyaknya warga yang menyeberang, Kalau hari-hari biasa kadang Rp500 ribu. Tapi kalau hari pasar atau pas banyak hasil panen, penghasilan sampai Rp1,5 juta perhari,” katanya.
(Joni Banne Tonapa)






