Tidak Terima Keluarganya Meninggal, Puskesmas Sendana Nyaris Diamuk

Gambar Tidak Terima Keluarganya Meninggal, Puskesmas Sendana Nyaris Diamuk

Mapos, Majene – Hingga Selasa (9/4/2019) pagi tadi, Polisi terus menjaga Puskesmas Sendana. Pasalnya, Senin (8/4/2019) sejumlah kelurga pasien datang mengamuk ke Puskesmas Sendana lantaran tidak terima salah seorang keluarganya meninggal dunia.

Menurut Kapolsek Sendana AKP Achmad Syarif Tola, terjadinya peristiwa itu bermula ketika seorang pasien bernama Arham (28) tahun alamat Lingkungan Apoleang Selatan Kelurahan Mosso Dhua Kecamatan Sendana datang ke Puskesmas Sendana karena mengeluh sakit.

“Adapun keluhan penyakit yang diderita yakni sakit pada bagian perut, nyeri ulu hati dan sesak nafas dan oleh Dokter dilakukan pemeriksaan (Anamnese) dengan cara melakukan pengukuran tingkat kesadaran, tensi, nadi dan pernapasan serta mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien tentang riwayat penyakit dan keluhan pasien,” terang Achmad Syarif Tola.

Dari hasil pemeriksaan lanjutnya, oleh dokter menyimpulkan bahwa dari anamnesis dan pemfis itu pasien GCS 15.

“Tanda tanda vital normal, nyeri tekan uluhati tidak ada kelainan pada pemeriksaan fisik lainnya. Diagnosis dokter dispepsia yaitu keluhan utama, nyeri ulu hati sejak hari ini, pasien merasa sesak, mual muntah tidak ada, rasa pahit di mulut tidak ada, demam tidak ada, batuk-batuk tidak ada, nyeri dada tidak ada. BAB hitam tidak ada. Riwayat penyakit dan keluhan beberapa hari sebelum ke puskesmas tidak ada. BAK lancar dan BAB biasa,” tutur Achmad Syarif Tola.

Berdasarkan keyakinan dokter, akhirnya, pasien dibolehkan pulang dan diberi obat untuk 2 hari, dengan catatan apabila belum ada perubahan, pasien diminta kembali ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan.

Di hari yang sama yakni pukul 18.30 Wita, pasien Arham kembali ke Puskesmas Sendana dan kali ini diantarkan oleh keluarganya bernama Darman (52) dalam keadaan tidak sadar.

Menurut dokter, nadi pasien lemah dan tekanan darah tidak terukur, kemudian dipasangkan oksigen via sunkup.

“Kemudian dilakukan resusitasi jantung paru 5 siklus, lalu kembali dicek nadi ternyata sudah karotis atau tidak teraba. Cek pupil: midriasis total, lalu pasien dinyatakan meninggal dunia oleh dokter,” cerita Achmad Syarif Tola.

Saat pasien dibawa oleh Darman beserta puluhan orang lainnya ke Puskesmas Sendana, dokter sementara sholat magrib dan salah satu dari keluarga korban menggedor-gedor rumah dinas dokter sambil bereriak-teriak dengan melontarkan kata-kata ke dokter.

“Bertanggung jawab ki dokter atas meninggalnya Arham,” teriak keluarga pasien seperti ditirukan Achmad Syarif Tola.

Dari pihak keluarga almarhum Arham tidak menerima baik pelayanan dan penanganan medis yang dilakukan oleh dokter Puskesmas Sendana sehingga mereka nyaris ribut.

Berdasarkan kejadian tersebut Kapolsek Sendana AKP Achmad Syarif Tola, SH memerintahkan seluruh personil untuk melakukan antisipasi pasca meninggalnya Arham dengan membagi tugas sebagai berikut, Kanit Binmas, Kanit Intel, Kanit Reskrim dan 2 orang anggota Bhabinkamtibmas ke rumah duka untuk melakukan pendekatan serta memberikan pemahaman kepada keluarga almarhum Arham dan mengumpulkan keterangan.

Sementara Achmad Syarif Tola bersama anggota Polsek lainnya stand by di Puskesmas Sendana guna mengantisipasi keadaan dan mengumpulkan keterangan saksi.

Dilaporkan, hingga saat ini situasi dinyatakan dalam keadaan aman dan kondusif.

(ipunk)