Teror Jalan Rusak di Kalukku Terus Incar Korban, Bisakah Warga Tuntut Ganti Rugi ?

Gambar Teror Jalan Rusak di Kalukku Terus Incar Korban, Bisakah Warga Tuntut Ganti Rugi ?

Mapos, Mamuju – Jalan Tras Sulawesi Lekbeng Tasiu Beru-beru, merupakan jalan poros yang mengakses dua Kabupaten, yakni Mamuju dan Mamuju Tengah.

Jalan itu, sementara dalam pembenahan pihak dinas terkait. Namun apa jadinya, bila pekerjaan tersebut dilalaikan.

Pekerjaan jalan dengan bentuk kubangan itu, dibiarkan oleh pihak pelaksana tanpa memasang tanda atau isyarat jalan rusak. Akibatnya, para pengendara yang melintas di jalan tersebut kerap memakan korban dan menjadi momok menakutkan bagi pengendara.

“Hampir setiap hari rata-rata pengendara motor selalu jatuh jika tak melihat lobang itu. Kebanyakan mereka mengalami luka-luka,” ujar warga Kalukku, Anto kepada media ini. Rabu (27/2/2019).

Kondisi jalan protokoler Kalukku Beru-beru diniarkan tanpa memasang tanda.

Jalan itu saban hari ramai dilalui warga terutama pada jam-jam sibuk, pagi dan sore.

Kondisi makin buruk saat hujan turun. Jalan kerap tergenang air, sehingga pengendara sulit melihat lubang. Salah-salah bisa jatuh karena sepeda motor terperosok di lubang atau tergelincir di aspal yang bergelombang. Menurut Anto ini sering terjadi.

Pada Senin 25 Februari 2019 pagi dan malam, beberapa pengendara motor terjatuh di jalan tersebut karena ban motornya tak sengaja terperosok ke lubang. Dia mengalami luka-luka dan pustep motornya patah.

Anto ikut menyaksikan kecelakaan tersebut. “Banyak kecelakaan saat malam hari, tapi saat terang juga ada karena ini jalan protokoler,” ujar Anto.

Warga juga mengancam, bakal menghentikan pekerjaan itu, bila pihak pelaksana tidak memasang tanda.

Anto juga meminta pemerintah tidak hanya menambal sulam jalan yang rusak. Tapi juga harus memperhatikan keselamatan pengendara.

Korban Jalan Berlubang Bisa Tuntut Ganti Rugi, Seberapa Besar?

Faktanya, jalan umum di Kabupaten Mamuju banyak berlubang, dan tak terkecuali di luar Ibu Kota. Parahnya, jalan berlubang sering memakan korban.

Namun ternyata, korban bisa mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pemerintah setempat. Informasi ini jarang yang mengetahuinya.

Sebenarnya, hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 24 ayat 1. Dalam regulasi itu disebutkan bahwa penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Pada ayat 2 pasal yang sama dijelaskan apabila penyelanggara jalan belum bisa melakukan perbaikan, area tersebut harus diberi tanda atau rambu untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Jika sampai terjadi kecelakaan, pengendara yang menjadi korban jalan berlubang dapat menuntut ganti rugi. Hal ini sesuai dengan Undang Undang LLAJ pasal 273.

Pada ayat 1 berbunyi setiap penyelenggara jalan yang tidak dengan segera dan patut memperbaiki jalan rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas sehingga menimbulkan korban luka ringan dan atau kerusakan kendaraan dan atau barang dipidana dengan penjara paling lama enam bulan atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Sementara ayat 2 menyebutkan jika korban mengalami luka berat, pelaku akan dikenai sanksi berupa hukuman penjara paling lama satu tahun atau denda maksimal Rp 24 juta.

Apabila kecelakaan akibat jalan rusak sampai menyebabkan korban meninggal dunia, penyelenggara jalan bisa dikenai hukuman penjara paling lama lima tahun atau membayar denda paling banyak Rp 120 juta.

Sedangkan pada ayat 4 dijelaskan bahwa penyelenggara yang tidak memasang rambu pada jalan yang rusak dan belum diperbaiki dapat dipidana dengan hukuman penjara paling lama enam bulan atau denda paling banyak Rp1,5 juta.

Pasalnya, penyelenggara jalan wajib dan bertanggung jawab untuk memelihara jalan. Hal ini sudah diatur dalam PP No. 34 Tahun 2006 tentang jalan pasal 97 ayat 1.

(usman)

Baca Juga
caleg sulbar no 23
caleg sulbar no 27
caleg sulbar no 39
caleg sulbar no 42