Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, SERING kali kita menutup hari dengan perasaan hampa. Seolah hari ini tidak membawa apa-apa. Tidak ada kabar besar. Tidak ada peristiwa yang layak dikenang.
Padahal, bisa jadi bukan karena hari itu kosong, melainkan karena kita tidak berhenti cukup lama untuk menyadari isinya.
Dalam latihan taking the good, justru yang paling sering terlewat adalah kebaikan-kebaikan kecil. Ia tidak hadir dengan suara keras. Tidak menuntut perhatian. Hanya lewat begitu saja, seperti napas yang kita hirup tanpa sadar.
Bangun pagi masih diberi kehidupan. Tubuh masih bisa bergerak. Hati masih diberi ruang untuk memilih tenang. Itu semua kebaikan tetapi terlalu dekat, sehingga sering kita anggap biasa.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa bahkan hal yang tampak sederhana tasbih, tahmid, tahlil, senyum, menahan diri dari keburukan semuanya bernilai sedekah. Artinya, hari yang tampak biasa sebenarnya penuh kebaikan.
Masalahnya bukan pada kurangnya kebaikan, tetapi pada kurangnya kesadaran untuk menangkapnya.
Taking the good mengajak kita berhenti sejenak, bukan untuk menghakimi hari, tetapi untuk bertanya dengan lembut pada diri sendiri:
“Apa kebaikan hari ini yang sebenarnya terjadi, namun hampir saja aku lewatkan?” Saat kebaikan kecil disadari, ia berubah menjadi rasa syukur.
Saat rasa syukur dirasakan, ia menjadi ketenangan. Dan saat ketenangan disimpan, ia menjadi kekuatan batin.
Hari ini kita tidak dituntut untuk menjadi luar biasa. Cukup hadir sepenuh hati pada kebaikan yang sudah ada.
Karena sering kali, yang paling menyembuhkan bukan peristiwa besar, melainkan kesadaran kecil yang terus kita rawat setiap hari.
Dan di situlah, Taking the good benar-benar bekerja pelan, sederhana, tapi menguatkan jiwa.
(***)






