Soal Dugaan Kube Fiktif di Majene, Polisi Terus Kumpulkan Keterangan Saksi

  • 17 Jan 2020
  • Hukum
  • R Fajar Soenoe
  • 441
Gambar Soal Dugaan Kube Fiktif di Majene, Polisi Terus Kumpulkan Keterangan Saksi

Mapos, Majene — Penyelidikan dugaan Kelompok Usaha Bersama (Kube) fiktif di Dinas Sosial Kabupaten Majene terus bergulir.

Perkara bantuan sosial untuk fakir miskin yang diduga disalahgunakan itu rupanya kini memasuki babak baru setelah sebelumnya dilaporkan oleh Aliansi Pemantau Kinerja Aparatur Negara Republik Indonesia (Apkan) RI Wilayah Sulawesi Barat beberapa waktu lalu.

Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Majene, AKP Pandu Arief Setiawan, pihaknya kini tengah memeriksa sejumlah saksi.

“Kami masih mengambil ketarangan dari beberapa saksi Pak,” kata Pandu Arief Setiawan, ketika dikonfirmasi Jum’at (17/01/2020).

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Apkan RI Provinsi Sulbar secara terpisah mengatakan, pihaknya juga telah menghadirkan sejumlah saksi berikut alat bukti berupa dokumen kepada penyidik di Polres Majene.

“Kita sudah bawa sejumlah saksi untuk melapor dan sekaligus menyerahkan dokumen pendukung atas dugaan Kube fiktif di Majene sebulan lalu. Kami akan terus mengawal dugaan Kube fiktif ini hingga tuntas,” terang Arifullah.

Lebih jauh dikatakan, pihaknya menyayangkan ulah istri mantan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Majene, Ahmadia yaitu Nahdlah BF karena cenderung aktif membela mati-matian suaminya yang kini menjabat sebagai Kapala Dinas Perhubungan Majene.

Mantan Camat Banggae Timur yang kini menjabat sebagai Asisten Bidang Pemerintahan Satda Majene ini kata Arifullah bertemu dirinya pada Jum’at (17/01/2020) dan melakukan klarifikasi.

“Dia membantah jika ada Kube fiktif di Dinas Sosial Majene yang kala itu dipimpin oleh suaminya. Bahkan dia menyebut, bahwa selaku camat, Nahdlah telah memanggil semua pihak terkait seperti lurah untuk memberikan keterangan yang jelas atas pernyataannya,” sebut Arifullah.

“Nantilah kita lihat seperti apa penyelidikan yang dilakukan oleh Polisi. Karena, kami juga punya bukti yang mendasar. Apalagi, ada pengakuan dari masyarakat dan pihak terkait lainnya. Kita adalah perpanjangan tangan masyarakat yang minta keadilan. Bukan justru dijadikan obyek ‘amukan’ oleh Istri Ahmadia. Kalau mau marah, silakan marahi masyarakat dan suruh ‘orang dalam’ instrospeksi diri. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api,” pungkasnya.

(ipunk)