SMAN 1 Mamuju Keluarkan Siswa Berprestasi, Febrianto: Sekolah Mesti Beri Solusi Bukan Difinalti

Gambar SMAN 1 Mamuju Keluarkan Siswa Berprestasi, Febrianto: Sekolah Mesti Beri Solusi Bukan Difinalti

Mapos, Mamuju – Dunia pendidikan kita terkadang masih menyisakan cerita miris di baliknya. Ada beberapa pihak yang berlaku tidak sepantasnya di dalam dunia pendidikan.

Nah, baru-baru ini ada seorang siswa SMA Negeri 1 Mamuju yang dikeluarkan dari sekolah karena alasan yang kurang bisa dipahami. Siswa ini bernama Edgard Amping. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dan berprestasi.

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Mamuju nampaknya memang bukan tempat untuk siswa berprestasi.

Pihak sekolah mengeluarkan salah satu siswanya yang sedang mengejar mimpinya sebagai pemain sepakbola profesional.

Siswa yang duduk di kelas 11 ini lolos mewakili Indonesia untuk berlatih bersama tim Garuda Select 2019 di London Inggris dikeluarkan dari sekolah unggulan itu.

Padahal hari ini Edgar akan berangkat ke London, Inggris bersama tim Garuda Select, di sana mereka akan menempuh serangkaian latihan dan berlaga dengan akademi klub-klub Inggris. Mereka akan menjalani 17 kali pertandingan selama delapan bulan berada di Inggris.

Edgar merupakan satu-satunya yang mewakili Indonesia di luar Pulau Jawa.

Raihan prestasi itu memaksanya harus absen dari pelajaran di sekolah karena kesibukan menjalani latihan dan ikut seleksi.

Menanggapi hal tersebut, Pembina Sekolah Sepakbola Mitra Manakarra, Febrianto Wijaya menyayangkan keputusan yang diambil pihak sekolah SMAN 1 Mamuju.

Mantan pemain PSM Makassar ini mengatakan, seharusnya dari pihak sekolah memberikan solusi yang baik, bukan langsung memberikan finalti ke Edgard Amping.

Febrianto mengatakan, perlu diketahui, Edgard Amping sudah dua kali terpilih membela Indonesia, pertama China Gothia Cup di Cina dan kedua Garuda Select.

Garuda Select ini adalah salah satu program terbaik Indonesia untuk membina atlit berprestasi.

“Jadi seluruh atlit pesepak bola itu mimpinya ingin bermain di Garuda Select. Artinya ini suatu kebanggan ada perwakilan putra Mamuju bisa bermain di Garuda Select. Edgard Amping adalah salah satu yang terpilih mewakili indonesia,” ucapnya.

Febrianto menjelaskan, didalam akademi PSM sendiri, terpilih beberapa pemain, salah satunya adalah Edgard Amping dari Mamuju.

Perlu diluruskan, lanjut Febrianto bahwa Edgard Amping tidak masuk sekolah bukan karena dia malas, bukan karena dia sengaja, tapi dia membela program pemerintah lewat Garuda Select.

Febrianto mengatakan, dari kejadian Edgard ini dapat menjadi cambuk untuk semua bahwa seharusnya di Sulbar ada sekolah untuk siswa-siswa berprestasi dalam bidang olahraga.

“Kalau pun tidak ada, saran saya kepada seluruh sekolah dan pemerintah provinsi ada baiknya memperhatikan siswa-siswa yang berprestasi,” ujarnya.

Disinggung soal dikeluarkannya Edgard lantaran tidak ada penyampaian dari SSB ke pihak sekolah, Febrianto membantah hal tersebut. Ia menyampaikan bahwa secara lisan telah disampaikan kepada pihak sekolah SMAN 1 Mamuju.

“Penyampaian itu kita sampaikan pada bulan September 2019, malahan kita adakan konferensi pers di Hotel Grand Maleo saat itu dan kita undang juga dari pihak sekolah SMAN 1 Mamuju,” pungkasnya.

Febrianto menambahkan, dengan adanya kasus ini, perlu adanya perbaikan untuk memberlakukan atlit-atlit berprestasi. Bukan cuma atlit sepak bola saja, namun semua atlit-atlit lainnya yang berprestasi.

“Disinilah peran dari sekolah hadir guna mendukung siswanya yang berprestasi, bukan memperburuk keadaan,” ucapnya.

“Sekali lagi ini saya sampaikan, dari peristiwa ini perlu adanya perbaikan di Mamuju bahkan di Sulawesi Barat dan semoga peristiwa ini tidak sampai terjadi dua kali menimpa atlit-atlit berprestasi lainnya,” tutup Febrianto.

Sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Mamuju, Yusuf S yang ditemui di ruangannya mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa.

Keputusan mengeluarkan Edgard dari sekolah sudah bulat setelah rapat dengan seluruh guru dan BK di sekolah.

“Kita di sini kalau kehadiran anak-anak itu 80 persen untuk naik kelas. Kalau tidak ada informasi, surat masuk (izin) dari kementerian dan dari pihak penyelenggara tidak ada juga. Cuma kabarnya kita dengar dia ke sini, kesini (keluar daerah) jadi kita tidak tahu bagaimana menanganinya,” kata Yusuf, Rabu, (9/10/2019).

Yusuf mengatakan pihaknya sudah memanggil orangtuanya ke sekolah. Karena sudah tidak ada jalan, pasti tidak naik kelas.

“Setelah orangtuanya ketemu BP, solusinya dia minta rekomendasi untuk pindah ke SMAN 2 Mamuju,” kata Yusuf.

Yusuf juga mengatakan pihak sekolah hanya menerapkan aturan. Apalagi memang tidak ada penyampaian dari Disdik Sulbar ke sekolah bahwa anak ini akan mengikuti kegiatan di luar.

“Kita mendukung prestasinya itu. Cuma sayangnya tidak ada surat (pemberitahuan) dari penanggungjawabnya. Masalah administrasi ini. Kita menunggu saja,” ujar Yusuf.

Sementara itu, orang tua Edgard, Luther Amping yang dikonfirmasi ditempat berbeda mengaku, bahwa ia sudah pasrah jika anaknya harus pindah sekolah dari pada harus tinggal kelas.

“Saya sebenarnya sadari karena sekolah punya aturan. Karena dianggap kehadirannya sudah tidak memenuhi syarat untuk naik kelas, jadi sudah tidak bisa, jadi apa boleh buat saya carikan sekolah yang bisa natempati anakku,” kata Luther.

Luther hanya berharap agar anaknya bisa berangkat ke London, Inggris tanpa beban. Luther mengaku memilih SMAN 1 Mamuju untuk anaknya menempuh pendidikan formal karena merupakan salah satu sekolah unggulan di Mamuju. Apalagi, dia masuk melalui jalur prestasi.

“Dalam hal sepakbola ini anak sudah kelihatan prestasinya dan berhasil mewakili Indonesia di luar. Besok sudah berangkat ke Inggris. Manfaatkan kesempatan ini supaya apa yang dicita-dicitakan bisa tercapai,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Sulbar, Arifuddin Toppo mengatakan pihaknya belum mengetahui masalah ini. Pihaknya baru akan melakukan penelusuran.

“Kami akan melakukan penelusuran terkait hal ini,” tutup Arifuddin.

(*)