Sikap Oknum Debt Collector PT. MAF Mamuju Dikeluhkan Nasabahnya

Gambar Sikap Oknum Debt Collector PT. MAF Mamuju Dikeluhkan Nasabahnya

Mapos, Mamuju – Keputusan keringanan kredit yang disampaikan oleh Presiden Jokowi sepertinya tidak berlaku di PT. Mega Auto Finance (MAF) Mamuju.

Pasalnya dua oknum Debt Collector MAF tetap menagih cicilan motor warga Simbuang Satu, Kelurahan Simboro Kabupaten Mamuju, Musraho. Padahal sebelumnya Musraho sudah mengajukan proses restrukturisasi ke Kantor PT MAF.

“Beberapa bulan yang lalu saya mengambil motor jenis FINNO presmium. Sudah tiga bulan saya bayar angsuran, namun pada bulan ke empat saya tidak mampu lagi membayar angsuran akibat dampak Covid-19. Sehingga saya menghadap ke kantor PT. MAF yang menangani kendaraan saya untuk meminta penjelasan tentang proses restrukturisasi,” terang Musraho, Kamis (7/4/2020) kemarin.

Saat itu Musraho mengaku langsung menemui Kepala Cabang perusahaan itu. Kepala cabang MAF menjelaskan ada dua proses restrukturisasi. Yaitu memperpanjang tenor angsuran, namun harus bayar 50 persen dari angsuran tiap bulan dan memperpanjang tenor angsuran, namun harus bayar bunga tiap bulan sesuai jangka waktu diajukan oleh pihak debitur dan dinaikan angsuran tiap bulan.

“Seperti yang saya tanda tangani hari Rabu (6/4/2020), saya harus membayar bunga dari jumlah angsuran tiap bulan. Jumlah angsuran pokok sebelum mengajukan restrukturisasi Rp926.000. Namun setelah proses restrukturisasi angsuran dinaikan menjadi Rp955.000 dan itu tidak termasuk dalam bayar bunganya,” tuturnya heran.

Diakui, dia tidak punya lagi dana untuk melunaai bunga cicilan. Kondisi ini tidak mengurungkan niat 2 orang debt collector PT. MAF untuk tetap menagih.

Saat menagih, kata Musraho, para debt collector itu ditenui istrinya. Sebab dia sedang keluar rumah.

“Istri saya sudah sampaikan bahwa saya sudah menghadap atasan mereka. Bahwa saya sudah membayar bunga cicilan sebesar Rp488.000 untul 3 bulan. Tapi kedua debt collector itu ngotot bahwa jumlah pembayaran itu salah,” teeang Musraho.

Yang mengagetkan Musraho, paea debt collector itu mengatakan bahwa Rp488.000 itu adalah denda per bulan.

“Mereka bilang dendanya tetap bertambah. Saya cicil motor, bukan bus. Setelah saya chat melalui whatsapp, debt collector itu justru menyuruh saya untuk menghadap kembali di kantornya untuk menjelaskan kembali. Namun saya menolak karena penjelasan dari atasan mereka cukup jelas menurut saya,” ungkapnya.

Atas ketidak nyamanannya sebagai nasabah, Musraho berencana akan melaporkan oknum Debt Colletor tersebut ke Polresta Mamuju.

(*)