Sejumlah Traffic Light Tidak Berfungsi, Ini Penjelasan Kadishub Majene

  • 3 Feb 2019
  • Majene
  • R Fajar Soenoe
  • 296
Gambar Sejumlah Traffic Light Tidak Berfungsi, Ini Penjelasan Kadishub Majene

Mapos, Majene – Keluhan pengguna jalan di Kabupaten Majene atas tidak berfungsinya sejumlah traffic light, bahkan nilai pemeliharaannya mencapai Rp100 juta per tahun diduga digunakan bukan peruntukannya, langsung dijawab oleh Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Majene, Mithar Tala Ali, Minggu (3/2/2019).

Traffic light di perempatan SMA Negeri 2 Majene tidak berfungsi bertahun-tahun foto : ipunk

Dikatakan, traffic light yang ada di Kabupaten Majene semuanya sudah termakan usia dan tentu perangkatnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Ada kejanggalan saat pertama kali saya coba menghubungi teknisi yang biasa memperbaiki traffic light. Dia katakan, untuk membenahi satu unit dibutuhkan anggaran antara Rp100 an juta bahkan yang di perempatan SMA Negeri 2 bisa mencapai sekitar Rp200 juta lebih,” terang Mithar.

Mendapat jawaban itu, sontak ia kaget, karena yang dia anggarkan melalui APBD TA 2018 hanya Rp60 juta saja.

“Tapi karena bertepatan traffic light di bundaran Tugu Juang Pusat Pertokoan (Pustok) padam, saya coba mendatangi teknisi yang di belakang BLK. Tiba disana, saya setuju-setuju saja dengan ongkos perbaikan yang cukup mahal dengan catatan, orang Perhubungan wajib mendampingi dia dalam perbaikan karena saya melihat ada yang janggal disana. Eh, bukannya dia setuju. Justru dia suruh saya mencari teknisi lain,” cerita Mithar.

Ia pun berusaha semampunya. Dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki personel Dishub, dia mencoba mengutak-atik traffic light di Tugu Juang Pustok Majene.

“Ternyata yang bermasalah hanya di pembatas jaringan listrik atau biasa disebut MCB. Biayanya tidak seberapa. Padahal, setiap rusak si teknisi selalu minta biaya sekali perbaikan Rp6 juta. Berarti selama ini dia (teknisi) bodohi kita,” aku Mithar.

Lebih jauh katanya, untuk saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan pihak balai yang memang tupoksinya menangani sarana dan prasarana jalan negara termasuk traffic light.

“Saya sudah minta ke balai untuk diberi bongkaran traffic light dari daerah lain. Alhamdulillah, kita dikasi tiga unit tapi itu pun dalam keadaan tidak sempurna. Kebanyakan modulnya rusak,” ujar Mithar.

“Sebenarnya, kabupaten bisa saja lepas tangan. Tapi karena kita peduli sebab ada di wilayah kita, kita perbaiki saja,” imbuh Mithar seraya menambahkan jika saja anggaran Rp100 juta ada, tentu sudah ada sebagaian traffic light yang berjalan normal, apalagi di tahun anggaran 2019 pihak Dishub menganggarkan biaya pemeliharaan traffic light hanya Rp25 juta.

(ipunk)