Relawan Senior M. Rizki Fauzi: Warga Sudah Beberapa Hari Tak Makan Nasi

Bencana Aceh, Sumut dan sumbar

Mapos, Banda Aceh – Di balik upaya penyelamatan yang berlangsung di tengah bencana banjir besar Aceh, ada sosok relawan kemanusiaan yang suaranya kembali menggetarkan nurani. M. Rizki Fauzi, seorang relawan senior yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk misi-misi kemanusiaan lintas negara—mulai dari pengantaran bantuan untuk warga Gaza Palestina, Suriah, Muslim Rohingya, hingga menjadi relawan dalam bencana gempa di Turki kini berada di Aceh. Menyaksikan langsung kondisi yang disebutnya sebagai salah satu situasi paling darurat yang pernah ia tangani.

Kepada mamujupos.com, Rizki menggambarkan keadaan Aceh dengan suara parau yang penuh keprihatinan. Akses jalan yang terputus di banyak wilayah membuat ribuan warga seperti terkurung dalam kepungan air dan lumpur tanpa kepastian bantuan.

“Dari Aceh Timur, Aceh Langsa, sampai Aceh Tamian, akses masih terputus total. Bantuan hampir tak bisa masuk,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meski jalur dari Medan menuju Tamian mulai terbuka, penyaluran bantuan ke wilayah yang lebih dalam masih sangat terbatas.

“Banda Aceh ke Bireun juga sulit diakses. Relawan tidak bisa bergerak bebas. Jalur yang agak memungkinkan hanya dari Lhokseumawe ke Aceh Utara dan Lhoksukon.”

‘Kami Kehabisan Logistik… Warga Kehilangan Segalanya’

Rizki mengaku pasokan bantuan yang masuk sangat sedikit dibandingkan luasnya area terdampak. Stok bahan makanan mulai habis, dan ribuan warga kini berada dalam situasi kekurangan berat.

“Kebutuhan yang paling mendesak adalah logistik seperti beras, makanan bayi, popok, pembalut, pakaian. Banyak warga kehilangan pakaian mereka karena hanyut dibawa banjir,” katanya.

Posko-posko dapur umum tetap beroperasi, namun suplai yang datang tidak mencukupi kebutuhan ribuan pengungsi.

Takengon: Krisis Paling Parah, Warga Tak Makan Nasi Berhari-hari

Dari seluruh wilayah yang ia pantau, Takengon menjadi lokasi yang paling menyisakan luka di hati relawan senior ini.

“Beras dan BBM di Takengon sudah zero. Warga disana sudah beberapa hari tidak makan nasi,” ungkap Rizki, menahan emosi.

Kondisi tersebut membuat Takengon memasuki status darurat berat. Tanpa pembukaan akses jalan, bantuan tidak bisa mencapai mereka yang paling membutuhkan.

Seruan dari Relawan Senior: -Tolong Buka Akses Jalan Itu…’

Dengan pengalaman menangani bencana kemanusiaan internasional selama bertahun-tahun, Rizki menyebut apa yang terjadi di Aceh sebagai situasi yang harus segera ditangani dengan skala besar.

“Ini emergency response. Bantuan pokok harus segera masuk. Kami mohon pemerintah segera membuka akses jalan, karena tanpa itu, relawan tidak bisa mencapai Takengon dan wilayah terdampak lainnya,” tegasnya.

Di tengah cuaca yang belum bersahabat dan jalanan yang hancur diterjang banjir, kata-kata Rizki menjadi pengingat bahwa bencana bukan hanya soal data dan laporan, tetapi tentang manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

Dan hari ini, mereka menunggubukan hanya bantuan, tetapi harapan untuk bangkit kembali dari salah satu masa paling gelap dalam hidup mereka.

(*)

error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...