Pengungsi Gunung Retak Tak Berdaya, Pertolongan Diharapkan

Gambar Pengungsi Gunung Retak Tak Berdaya, Pertolongan Diharapkan

Mapos, Mamuju – Sedih, iba, melihat kondisi para pengungsi gunung retak dan banjir bandang di Kecamatan Kalukku.

Mereka hidup seadanya sambil menanti secercik harapan.

Kekurangan, gelap gulita bila malam tiba, serta kebutuhan makanan dan air bersih mereka sangat butuhkan.

Lingkungan Sama, Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku, dulunya tempat mereka membagi kebahagiaan bersama keluarga mereka. Kini harapan untuk kembali tinggal di tempat itu sudah tak memiliki harapan lagi lantaran kuatir bencana longsor melanda kampung mereka.

Mereka meninggalkan tempat itu lantaran kuatir terjadi longsor dari gunung.

Perlu diketahui, Lingkungan Sama diapit oleh gunung dan sungai. Pada saat terjadi bencana banjir bandang, sebagian pemukiman warga porak porandak. Jembatan satu-satunya sebagai akses jalan utama putus, 5 rumah terseret banjir serta gunung yang dibawahnya adalah sebuah kampung (Lingkungan Sama) mengalami keretakan.

Dok. Mapos

Demi menyelamatkan diri, mereka kini mendirikan tenda pengungsian di Gentungan Timur, Kalukku.

Haruna (58), salah satu pengungsi mengatakan, ia dan 59 KK harus meninggalkan kampung halamannya karena kuatir terjadi longsor susulan yang sewaktu-waktu bisa mengancam ratusan nyawa.

Jembatan satu-satunya yang berada di kampung itu putus akibat banjir bandang.

“Kami tidak berani kembali pak, dikuatirkan sewaktu-waktu gunung yang retak bisa longsor, apalagi retaknya semakin parah,” ucapnya, Kamis (14/3/2019).

Dirinya berharap, pemerintah bisa mencarikan lokasi untuk tempat tinggal, karena dikuatirkan, 59 KK yang berada tenda pengungsian ini, bisa terpisah-pisah, mungkin ada yang ke daerah lain dan bisa jadi Lingkungan Sama bakal tinggal nama.

“Bisa jadi kampung tempat kami tinggal dahulu hanya tinggal nama pak. Kami sudah tidak berani lagi tinggal didalam pak,” ucapnya.

Kami berharap, pemerintah bisa mencarikan solusi dengan menyediakan lokasi yang bisa ditempati untuk 59 KK.

Dia menuturkan, sebelumnya, pihak dari Dinas Sosial dan TNI, pernah masuk untuk mengecek keretakan pada gunung tersebut, namun tidak sampai pada keretakan yang parah.

“Sebelumnya, Dinas Sosial dan TNI pernah masuk untuk mengecek sejauh mana keretakan gunung itu. Tapi mereka tidak sampai pada titik keretakan terparah pak. Mereka hanya melihat keretakan kecil yang dibawah, tidak sampai keatas. Kalau mereka naik keatas disitu keretakannya sangat parah pak,” bebernya.

Anak-anak pengungsian yang terancam putus sekolah

Selain itu, anak-anak mereka juga bakal terancam putus sekolah.

Menurut salah seorang guru SDN Sama yang juga turut mengungsi, Burhan, mengatakan, ada puluhan anak didiknya sejak terjadi bencana banjir bandang dan kemudian kewaspadaan gunung retak mengikuti orang tuanya mengungsi.

Burhan meminta, agar anak-anak yang berada di pengungsian bisa diselamatkan dengan memberikan pendidikan.

“Yang ikut mengungsi disini ada lebih dari 20 anak pak. Sembilan anak akan mengikuti ujian, selebihnya mulai dari kelas satu sampai kelas lima,” ujarnya.

Burhan berharap pemerinta segera mencarikan jalan solusi terbaik buat anak-anak dipengungsian.

“Saya minta pemerintah bisa membangunan sekolah sementara disini, biar hanya tenda-tenda agar anak bisa melanjutkan proses belajar mengajar,” harapnya.

(usman)

Baca Juga
caleg sulbar no 23
caleg sulbar no 27
caleg sulbar no 39
caleg sulbar no 42