Pelaku Ekonomi Merintih di Tengah Pandemi

0
58

Mapos, Majene — Sejak Covid-19 mewabah, seluruh sendi-sendi perekomian dunia mendadak lumpuh, tidak terkecuali di daerah. Terlebih ketika pemerintah pusat menginstrukskan agar seluruh kabupaten/kota melakukan refokusing anggaran, sontak menjadi momok yang menakutkan.

Betapa tidak, nomenklatur sudah baku dalam Peraturan Daerah (Perda) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus dipangkas dan dialihkan kepada penangan Covid-19.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Keuangan, Pendapatan dan Asset Daerah Kabupaten Majene, Provinsi Subar Kasman Kabil, Kamis (19/8/2021) mengatakan, refokusing dilakukan lantaran adanya penyesuaian dan instruksi penganggaran terkait penanganan Covid-19.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

“Kalau pendapatan waktu itu (2020) turun cukup drastis. Kalau tidak salah sekitar Rp46 miliar. Kemarin, kita juga di SOP kan untuk menganggarkan penanganan Covid-19 pada tiga bidang, kesehatan, sosial dan ekonomi,” ungkap Kasman.

Dikatakan, Pemkab Majene menggelintorkan anggaran sebesar Rp8 miliar untuk Bidang Kesehatan koordinasi dengan beberapa stakeholder lainya. “Kemudian untuk Bidang Sosial, kita berikan BLT Daerah kurang lebih Rp17 miliar. Dan bantuan UMKM kisaran Rp2 miliar lebih se Kabupaten Majene, sehingga total pembiayaan kita sekaitan pandemi mencapai Rp31 miliar,” beber Kasman Kabil.

Ia melanjutkan, dengan adanya PMK 17, 2021 tentang dana transfer ke daerah terjadi lagi pengurangan pendapatan khusus DAU. “Kita Majene kena pemotongan Rp16 miliar. Inilah yang kita sesuaikan lagi,” sebutnya.

Dengan menurunnya target pendapatan, maka secara auto kegiatan yang sudah direncanakan sebelumnya harus dikurangi melalui APBD pokok. “Ada lagi instruksi untuk mengalokasikan dana sebesar 8 persen untuk mendukung penanganan kesehatan terkait Covid-19 ditambah alokasi DAU minimal 25 persen untuk penangan ekonomi daerah,” ungkap Kasman Kabil.

Menurutnya, yang direfokusing saat ini adalah penanganan vaksinasi. “Kita anggaran sekitar Rp2 miliar. Kemudian operasional tidak banyak kita anggarkan melalui BTT dan insentif nakes. Kalau tahun lalu insentif nakes dibayarkan oleh pemerintah pusat. Kalau tahun ini dibebankan kepada daerah. Bahkan, tahun lalu ada carry over atau tunggakan sekitar Rp2,3 miliar yang harus dianggarkan dan dibayarkan tahun ini,” ucapnya.

Sayangnya, untuk tahun anggaran 2021, pemerintah Kabupaten Majene tidak lagi mengalokasikan dana untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) daerah yang pada tahun 2020 lalu sempat dirasakan masyarakat Majene yang tedampak Covid-19.

“Waktu itu kita mengalokasikan BLT Daerah sebesar Rp17 miliar selama 3 bulan. Sekarang tidak ada lagi,” terang Kasman Kabil.

Disinggung soal pertumbuhan ekonomi daerah khusunya di Kabupaten Majene pada tahun 2021, ia tidak bisa memberikan data valid. “Kalau itu silakan ke Bapeda,” tutupnya.

Sementara, berdasarkan data nasional,  pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua di 2021 naik sebesar 7,07 persen.

Pertumbuhan ekonomi itu tidak serta merta berdampak pada pelaku ekonomi yang yang ada di Majene. Keuangan mereka porak-poranda akibat pandemi.

Anto misalnya, pengusaha meubel di Majene ini mengeluhkan usaha yang dilakoninya.  Sejak pandemi Covid-19 melanda, nyaris usahanya gulung tikar. Omzet penjualan sebelum Covid-19 bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah perbulan, kini hanya sanggup buat bayar upah pekerja saja.

“Tenaga kerja yang kami pakai mencapai 25 orang yang sebagian berasal dari Jawa. Tapi kini tinggal separuhnya. Saat ini saja, tukang cat tidak masuk sebanyak 4 orang lantaran orderan sepi,” beber Anto.

Senada dengan salah seorang warga Majene lainnya, Endang. Endang yang usahanya menyediakan jasa menyewakan alat musik pada hajatan pernikahan dan lain-lain juga tidak lepas dari himpitan ekonomi. Dia mengaku nyaris tak bisa lagi bertahan untuk hidup. “Terpaksa saya banting setir jadi tukang ojek. Semua karyawan hingga biduan terpaksa harus cari jalan hidup masing-masing,” katanya.

Untuk menjual alat saja kata ayah dari tiga anak ini sangat susah. “Alat mau dijual buat kebutuhan sehari-hari saja amat susah. Ada yang mau mambeli, tapi harganya sangat murah,” ucap dia.

Dia hanya pasrah dan merintih dalam hati akan kemana nasib Tuhan akan membawanya. “Semoga pendemi ini cepat berlalu supaya kami dapat menghidupi lagi keluarga kami seperti sediakala,” harapnya.

(fajar/red)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.