Panelis Menilai, Paslon Harus Paham Selaraskan Konteks Pembangunan Daerah dengan Pusat

0
38
Mapos, Mamuju – Para kontestan di Pilkada Mamuju, yakni Sutinah Suhardi-Ado Mas’ud (Tina-Ado) dan Habsi Wahid -Irwan Pababari (HI), kembali dipertemukan di panggung debat Publik putaran terakhir, yang dilaksanakan KPU Mamuju, Rabu (02/12/2020).
Terkait materi debat, Menurut salah satu Panelis, Mulyadi Prayitno, pertanyaan yang diberikan pada seluruh paslon secara umum kualifikasinya sama.
“Ada yang bisa jawab tehknis, ada yang bisa jawab subtansial. Tapi pada dasarnya, mereka bisa menjawab dengan baik dari beberapa pertanyaan, terutama dalam menyelarasikan pembangunan nasional, provinsi dan daerah. Itu kan konteks temanya,” ucap Mulyadi Prayitno, pada awak media.
Selain itu ia juga menambahkan, bahwa yang terpenting bagi setiap Paslon Bupati dan Wakil Bupati, adalah memahami RPJMN, RPJMD Provinsi dan RPJMD, karena hal tersebut harus selaras di dalam konteks membangun daerah.
“Terutama tugas-tugas yang diperbantukan ke daerah, itu calon bupa harus paham itu, karena kalau calon Bupati tidak memahami itu, itu berpotensi ada mis-komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah,” tambahnya.
“Terutama didalam penyusunan Perda-perda, itu kan banyak yang tiba-tiba, membuat Perda yang bertentangan dengan pusat, itu yang bahaya,” sambungnya.
Ia juga mengungkapkan, tujuan utama dari tema debat “Menyelesaikan Persoalan Daerah Guna Menyelaraskan Pembangunan di Daerah Dengan Pusat dan Menjaga Keutuhan NKRI” itu, adalah para Paslon memahami pentingnya keselarasan antara pusat dan daerah, khususnya dalam menyusun Perda.
“Dan secara subtansial, dua-duanya memahami itu,”ungkapnya.
Dalam menjawab pertanyaan dari panelis, kata Mulyadi Prayitno, rata – rata Calon Bupati memberikan jawaban subtansi dan calon wakil bupati memberikan jawaban tehknis.
“Itu sama, saling melengkapi,” pungkasnya.
Komisaris Utama (PT) Sang Yhang Seri BUMN ini, juga menuturkan bahwa kemampuan seluruh Paslon dalam memberikan jawaban selama debat berlangsung, secara umum sama, karena pelaksanaan dari debat itu sifatnya naratif.
“Naratif tidak bisa dibobot, kalau kuantitatif baru bisa dibobot. Jadi, kalau naratif itu bukan panjang pendeknya (jawaban), yang terpenting kena dengan subtansi,” tutupnya.
(*)
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.