Pameran Temporer Sa’be Mandar Dibuka

  • 22 Okt 2020
  • Majene
  • R Fajar Soenoe
  • 353
Gambar Pameran Temporer Sa’be Mandar Dibuka

Mapos, Majene — Memperkuat data dan informasi koleksi museum di Kabupaten Majene, dinas terkait menyelenggarakan pameran temporer dengan maksud  menjadikan museum sebagai media edukasi kepada para pengunjung, mewujudkan museum sebagai kebanggaan publik.

“Kegiatan Pameran Temporer Daerah adalah upaya untuk mengembangkan museum dan penyebaran informasi tentang keberadaan musim itu sendiri,” kata Ketua Penyelenggara, Muh Yasin, Kamis (22/10/2020).

Kegiatan pameran temporer daerah katanya berfokus utama menampilkan kain sutra atau Sa’be Mandar dengan corak atau sure’ masa dulu dan sekarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Majene, Andi Beda Basharoe, S. Sos, M. Ap mengatakan, Museum Mandar menyimpan berbagai jenis koleksi baik masa prasejarah, kolonial hingga kemerdekaan.

“Kurang lebih 1.400 an koleksi dari 10 jenis koleksi tersimpan disini.
Bangunan ini merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun sejak tahun 1908 yang kala itu difungsikan sebagai Rumah Sakit Umum atau dalam bahasa Mandar disebut Boyang Tomonge’,” kata Andi Beda.

Ia menjelaskan, adapun tema kegiatan pameran temporer daerah adalah merajut sa’be mengenal budaya lokal Mandar dengan merangkai tiga komponen kegiatan yakni : pameran Sa’be Mandar, lomba edukatif kultural museum dan belajar bersama di museum.

Pada tempat sama, Pjs Bupati Majene Drs. H. M. Natsir, MM sesaat sebelum membuka Pameran Temporer Daerah mengatakan, dirinya mengajak semua pihak untuk memanfaatkan museum Mandar sebagai satu media untuk generasi kita kedepan.

“Biar mereka bisa berdialog dengan sejarah, karena saat ini nilai-nilai kesejarahan itu akan semakin terkikis dengan perkembangan globalisasi. Anak anak kita sekarang sudah dihantui oleh perkembangan IT, mereka diajak untuk menggarap sejarah secara maya tetapi secara fisik mereka tidak punya waktu,” ungkap Natsir.

Museum Mandar katanya merupakan ikon satu-satunya museum yang ada di Sulbar.

“Oleh karena itu yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita mampu mengemban beban kerja ini agar museum ini lebih bisa di populerkan, disinilah dibutuhkan mitra kerja yang terbangun dengan solid disemua lini. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita membuat kebijakan kebijakan yang langsung menjadi aksi nyata. Kalau perlu Kadis Budpar lebih banyak membuat MoU dengan berbagai pihak,” tegas Natsir.

Kebijakan pengembangan museum bukan hanya kewenangan Pemkab lanjutnya, namun dapat juga diintervensi oleh Pemprov, sehingga kedepannya akan ada kolaborasi antara Sandeq Race dengan Sutra Mandar, agar Museum Mandar dapat menjadi salah satu sumber PAD bagi Kabupaten Majene.

“Bisa juga ada muatan lokal tentang museum yang dimasukkan dalam mata belajaran disekolah,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Pameran Temporer Daerah dengan tema Merajut Sa’be Mengenal Budaya Lokal Mandar akan berlangsung dari 22 hingga 27 Oktober 2020.

(*)