MUI Mamuju Sarankan Pemprov Sulbar Segera Karantina Wilayah

Gambar MUI Mamuju Sarankan Pemprov Sulbar Segera Karantina Wilayah

Mapos, Mamuju – Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mamuju, Hajrul Malik, meminta Pemprov Sulbar untuk segera mengambil keputusan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Terlebih dua provinsi yang mengapit Sulbar sudah ada yang dinyatakan positif corona.

“Pendapat ini sudah saya sampaikan saat rapat dengan beberapa ormas yang dihadiri FKUB dan Kabinda Sulbar beberapa waktu lalu. Pertama, saya sangat menganjurkan kepada Pemprov Sulbar untuk melakukan karantina wilayah. Sebetulnya berdasarkan undang-undang nomor 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan. Terutama pada pasal 49 sampai pasal 59. Ini yang memungkinkan daerah mampu dan bisa melakukan karantina wilayah. Ketika dalam satu daerah terjadi darurat kesehatan,” paparnya, Kamis (26/03/2020).

Yang sudah dialami sekarang secara nasional dan dunia, lanjut Hajrul, sebetulnya sudah darurat kesehatan. Dan ada undang-undang yang sangat tepat.

“Tinggal kita laksanakan. Mestinya pemerintah fokus penanganan covid-19. Mumpung Sulawesi Barat ini insya Allah belum ada yang positif. Tetapi hal yang sangat segera kita antisipasi, karena ODP kita semakin meningkat jumlahnya,” katanya.

Yang kedua, imbuh Hajrul, perlunya kepastian sub koordinasi sistem koordinasi penanganan pasien. Seperti penanganan ODP, PDP dan suspect.

“Nah ODP kita sekarang ini meningkat. Itu artinya potensi PDP pun banyak. Konon beberapa pasien dalam satu pekan ini mulai yang kejadian tanggal 22 Maret, penduduk Taan yang datang berobat diarahkan ke RS Regional. Lalu kemudian apa yang dimuat oleh salah satu media harian hari ini, juga ditolak. Sehingga perlu ada segera tindakan serius menghubungkan mekanisme yang pasti dari mana kita memulai melakukan pemeriksaan,” katanya.

Bukan hanya OPD yang dipantau oleh pemerintah. Tapi masyarakat yang secara sukarela datang memeriksakan dirinya, mekanismenya harus jelas.

“Untuk masyarakat saya benar-benar menghimbau agar berdiam diri dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah, kecuali sangat darurat. Dan untuk setiap rumah tangga mestinya hanya ada satu orang yang keluar dari rumah. Itupun untuk kebutuhan makan dan berbelanja dalam rangka memenuhi kebutuhan sandang pangan papan kita,” himbaunya.

Demikian pula tidak menghadiri salat Jumat dan salat jamaah salat rawatib sebagaimana maklumat MUI Sulawesi Barat.

“Kalau kita ibaratkan ini adalah perang, maka musuh yang kita lawan tidak nyata. Musuhnya tidak kelihatan, sehingga senjata ampuh yang paling mematikan untuk melawan corona adalah berdiam di rumah dan tidak melakukan aktivitas sosial di luar. Bukan hanya melakukan sosial distancing tapi physical distancing,” tutupnya.

(*)

Baca Juga