Oleh : Hajrul Malik, Ketua DPW Partai Gelora Sulbar
Patiddi, 1 Januari 2025
Mapos, PARTAI Gelora Indonesia sore tadi, Rabu menggelar diskusi awal tahun secara daring melalui platform Gelora TV. Diskusi yang dihadiri oleh Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, bersama tokoh nasional seperti KH. Bahtiar Nasir dan Pitan Daslani, Jurnalis senior bidang luar negeri.
mengangkat tema besar Menyongsong Momentum Indonesia, Refleksi 2024 dan Proyeksi 2025.
Sebagai salah satu peserta rutin, Saya mencatat point poin pembuka dari Bung Fahri Hamzah , hadir sebagai waketum PARTAI GELORA INDONESIA
Beberapa point pandangan sebagai pengantar diskusi menyadarkan pentingnya literasi bagi setiap pemimpin dan semua anak bangsa, terutama tentunya anggota partai Gelora.
Literasi Pemimpin Kunci Kebangkitan Indonesia.
Fahri Hamzah dalam paparannya menyatakan bahwa Indonesia memiliki momentum besar untuk menjadi negara besar. Namun, untuk mencapai hal tersebut, para pemimpin bangsa harus memiliki literasi kuat tentang situasi global. “Indonesia harus diisi oleh pemimpin yang memahami tata dunia. Sejak awal, bangsa ini berdiri dengan cita-cita besar untuk menjadi kekuatan dunia,” ungkap Fahri.
Ia mengingatkan, narasi besar seperti yang pernah diusung oleh Bung Karno dan Bung Hatta perlu dihidupkan kembali. “Partai Gelora membawa misi Indonesia menjadi kekuatan kelima dunia, untuk menyadarkan bangsa ini akan hak dan potensinya,” tambahnya.
Jalan Tengah sebagai Identitas Bangsa
Menurut Fahri, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai kekuatan tengah yang mampu “mendayung di antara dua karang”. Ideologi Pancasila, lanjutnya, membuktikan bahwa bangsa ini memiliki identitas yang kuat dan mampu menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak di kancah global.
“Kita adalah kekuatan jalan tengah, bukan hanya alternatif, tetapi solusi dari ekstremisme ideologi di dunia,” tegas Fahri. Ia juga menyoroti pentingnya keberanian dan identitas kuat dari para pemimpin untuk membawa Indonesia tampil percaya diri di pentas internasional.
Tiga Pilar Konsolidasi untuk Masa Depan.
Fahri menyampaikan tiga langkah utama yang harus dilakukan untuk memperkuat posisi Indonesia:
1. Konsolidasi Politik
Politik Indonesia harus kembali harmonis. “Liberalism yang liar hanya memecah belah bangsa. Kita harus kembali ke narasi besar Pancasila yang menyatukan,” kata Fahri.
2. Konsolidasi Ekonomi
Ekonomi Pancasila harus menjadi dasar pembangunan bangsa. Ia menyoroti pentingnya kebijakan pemberdayaan desa, gizi anak, dan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
3. Konsolidasi Sosial
Fahri mengajak semua elemen bangsa untuk memperkuat harmoni sosial dan menolak segala upaya adu domba, terutama yang melibatkan organisasi keagamaan. “Ormas Islam adalah ibu kandung bangsa ini. Mereka harus bersinergi dengan negara, bukan berkonflik,” ujarnya.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Menutup diskusi, Fahri mengapresiasi langkah konsolidasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, rekonsiliasi yang dibangun oleh pemerintah menjadi langkah penting untuk menciptakan stabilitas nasional.
“Partai Gelora berkomitmen menjadi pengusung narasi besar ini. Tahun 2025 adalah waktu untuk bersatu dan membangun Indonesia menjadi kekuatan kelima dunia,” tutup Fahri.
Diskusi ini menjadi pengingat pentingnya persatuan dan visi besar bangsa untuk menghadapi tantangan global dengan percaya diri dan optimisme.
(***)






