Mengapa Kita Melukai Anak dengan Emosi Kita Sendiri?

Secangkir Kopi

Oleh : Hajrul Malik *

Mapos, TIDAK ada orang tua yang bangun pagi dengan niat, “Hari ini aku ingin melukai perasaan anakku.” Hampir semua orang tua mencintai anak-anaknya. Namun, di tengah kelelahan hidup, tekanan pekerjaan, dan beban pikiran yang menumpuk, emosi sering mengambil alih kendali. Kata-kata yang keluar menjadi lebih tajam dari niat di hati. Nada suara meninggi. Dan anak, sekali lagi, menjadi tempat terdekat dari tumpahan emosi yang sebenarnya bukan sepenuhnya tentang dirinya.

Di sinilah letak blind spot orang tua: kita sering mengira kemarahan kita murni karena perilaku anak, padahal yang terjadi adalah ledakan akumulasi emosi yang belum terselesaikan. Anak hanya menjadi pemicu terakhir dari api yang sudah lama menyala di dalam diri. Ketika ini terjadi berulang, orang tua tanpa sadar melukai anak dengan emosi yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk berhati-hati dengan ucapan, karena kata-kata bukan sekadar bunyi, tetapi bisa menjadi luka:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang selalu mengawasinya.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengajarkan kesadaran (mindfulness) dalam berbicara. Dalam relasi orang tua dan anak, kesadaran ini menjadi krusial. Kata-kata yang keluar dari emosi sering menancap lebih dalam daripada pukulan fisik. Anak mungkin tidak membalas, tetapi ingatan emosionalnya merekam.

Nabi Muhammad ﷺ juga memberi rambu tegas tentang bahaya kemarahan. Dalam sebuah hadis, ada seseorang yang meminta nasihat singkat kepada beliau, dan Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah.” (HR. al-Bukhari)

Ulama menjelaskan bahwa maksud hadis ini bukan melarang emosi marah secara mutlak-karena marah adalah bagian dari fitrah manusia-melainkan melarang membiarkan marah menguasai diri hingga melahirkan perilaku yang merusak. Dalam konteks pengasuhan, marah yang tidak terkelola mudah berubah menjadi kekerasan verbal: membentak, merendahkan, membandingkan anak dengan orang lain, atau mengancam. Semua itu meninggalkan bekas yang sulit dihapus.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai emotional projection ketika seseorang memproyeksikan emosi yang tidak ia sadari kepada orang lain. Orang tua yang sedang merasa gagal, tidak dihargai, atau tidak berdaya dalam hidupnya, bisa saja memproyeksikan perasaan itu kepada anak: menuntut anak menjadi sempurna, menekan anak agar “berhasil”, atau meluapkan frustrasi dengan kemarahan. Anak menjadi “layar” tempat emosi orang tua diproyeksikan.

Carl Jung pernah mengatakan, “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.”

“Sampai kamu menyadari apa yang tidak sadar dalam dirimu, ia akan mengendalikan hidupmu dan kamu akan menyebutnya takdir.”

Kutipan ini relevan dalam dunia parenting. Emosi yang tidak disadari mengendalikan reaksi kita. Kita mengira sedang “mendidik”, padahal yang sedang terjadi adalah pelepasan emosi yang tidak kita kenali.

Re-parenting mengajak orang tua untuk berani melihat ke dalam: emosi apa yang sedang saya rasakan sebelum memarahi anak? Apakah ini benar tentang anak, atau tentang kelelahan saya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sangat revolusioner. Ia menggeser parenting dari reaksi otomatis menjadi respons yang sadar.

Dalam Islam, proses mengenali dan membersihkan emosi disebut sebagai bagian dari tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Imam al-Ghazali menekankan bahwa banyak penyakit hati tidak tampak secara lahir, tetapi merusak kualitas relasi manusia. Marah yang berlebihan, merasa paling benar, dan keinginan mengontrol orang lain termasuk penyakit hati yang perlu disembuhkan. Orang tua yang tidak merawat jiwanya akan kesulitan merawat jiwa anaknya.

Maka, mengapa kita melukai anak dengan emosi kita sendiri? Karena sering kali kita belum berdamai dengan emosi kita. Kita belum memberi ruang aman bagi diri kita untuk lelah, takut, dan kecewa. Anak menjadi korban dari konflik batin orang tua yang belum selesai. Re-parenting menawarkan jalan keluar: sebelum mendidik anak, didiklah dulu emosi diri sendiri. Sebelum menuntut anak tenang, belajarlah lebih dulu menenangkan batin.

(***)

 

* Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...