Mansur : Pasien Muh. Nur Sudah Diintervensi Sejak 2017

0
70

Mapos, Mamuju¬†–¬†Masalah gizi buruk masih jadi pekerjaan rumah besar yang dihadapi. Tingginya masalah anak penderita gizi buruk disebabkan oleh berbagai faktor yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

“Sampai saat ini penderita gizi buruk sebagian besar adalah anak-anak, karena orangtua mereka kemungkinan memiliki berbagai masalah yang membuat mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi anak-anaknya,” ungkap Sekretaris Dinkses Mamuju, Mansur.

Sekretaris Dinkes Mamuju, H. Mansur, S. Farm

Menurut Mansur, beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak menderita gizi buruk, antara lain:

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

1. Ekonomi
Salah satu faktor yang paling dialami oleh banyak keluarga adalah masalah ekonomi yang rendah. Ekonomi yang sulit, pekerjaan, dan penghasilan yang tak mencukupi, dan mahalnya harga bahan makanan membuat orangtua mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Padahal, usia 1-3 tahun merupakan masa kritis bagi anak untuk mengalami masalah gizi buruk.

2. Sanitasi
Kondisi rumah dengan sanitasi yang kurang baik akan membuat kesehatan penghuni rumah, khususnya anak-anak, akan terganggu. Sanitasi yang buruk juga akan mencemari berbagai bahan makanan yang akan dimasak.

3. Pendidikan
Orangtua seharusnya menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan akan kecukupan gizi anak. Namun tingkat pendidikan yang rendah membuat orangtua tidak mampu menyediakan asupan yang bergizi bagi anak-anak mereka.

“Ibu merupakan kunci dari pemenuhan gizi anak-anak, dan kunci untuk mengatasi gizi buruk,” kata Mansur.

Ketidaktahuan akan manfaat pemberian gizi yang cukup pada anak akan membuat orangtua cenderung menganggap gizi bukan hal yang penting.

4. Perilaku orangtua
Orangtua sering mengganggap bahwa mereka tahu segala sesuatu, sehingga tidak menyadari bahwa mereka masih membutuhkan bimbingan dari para ahli medis dalam mengatasi masalah gizi dan kesehatan.

“Ada persepsi yang salah dari para orangtua ketika mereka datang ke posyandu. Seringkali mereka malas datang karena takut diceramahi dan dimarahi dokter tentang masalah gizi,” ujarnya.

Perilaku orangtua yang seperti ini membuat anak akan terus berada dalam kondisi gizi buruk dan menyebabkan anak menjadi sering sakit.

Selain itu, kata Mansur, Gizi buruk dapat terjadi karena kurangnya asupan makanan yang bergizi, munculnya penyakit penyerta misalnya kecacingan dan infeksi.

Olehnya itu, penangannyapun harus melibatkan multi sektor misalnya, pemberian lapangan kerja, ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas, termasuk mengatur kelahiran dengan ber KB, sarana air bersih dan jamban keluarga.

Terkait dengan gizi buruk yang terjadi kepada Muh. Nur (2) yang beralamat di Dusun Serang Desa Taan Kecamatan Tapalang, sebenarnya pasien tersebut telah diintervensi oleh tenaga kesehatan melalui perawatan insentif di Puskesmas Tapalang dan di rujuk ke RS Mamuju, semuanya sudah ditangani dengan baik, termasuk perawatan dan pengobatan sudah difasilitasi dengan adanya kepemilikan kartu BPJS/KIS kepada semua keluargaya dan sampai saat ini masih dalam pengawasan dan penanganan khusus oleh tenaga gizi Puskesmas Tapalang.

BPJS Milik Muh. Nur dan Keluarga.

“Kami mengharapkan agar pemerintah setempat dan sektor terkait dapat berkontribusi terhadap kehidupan yang layak bagi keluarga Muh. Nur seperti pemukiman dan lingkungan yang layak termasuk kepedulian untuk bisa menghidupi keluarganya dengan memberikan modal atau bantuan lain,” tutur Mansur. Senin (19/3/2018).

Sementara itu, Kepala Seksi KIA Dinkes Kabupaten Mamuju Bidan Rafaela mengatakan, gizi buruk terhadap Muh. Nur ini telah ditemukan di 2016, dan mendapatkan perawatan di RSUD Mamuju bulan Juni tahun 2017 dan sampai sekarang masih diintervensi.

“Karena faktor lingkungan dan keluarganya belum menyadari secara maksimal tentang PHBS sehingga pertumbuhan Muh. Nur terganggu,” terang Rafaela.

(usman)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.