Keluh Kesah Tukang Parkir: Biasanya Pejabat yang Parkir Jarang Bayar

Gambar Keluh Kesah Tukang Parkir: Biasanya Pejabat yang Parkir Jarang Bayar

Mapos, Mamuju – Beban kerja juru parkir (jukir) tidak sesuai dengan honor yang diterima. Nasib jukir yang berstatus non tenaga honorer ini sangat memprihatinkan. Bayangkan, mereka hanya mengandalkan dari hasil parkir untuk bisa menghidupi keluarga kecilnya.

Pria yang bertugas sebagai jukir di Anjungan Pantai Manakarra itu terlihat sibuk mengatur kendaraan yang akan keluar dan masuk. Dialah Akung, satu di antara puluhan jukir di Mamuju.

Akung bekerja tanpa honor tetap. Padahal, setiap hari ia bekerja menjalankan tugas sesuai dengan karcis yang diterimanya dari dinas setempat.

Akung adalah satu diantara jukir penyumbang PAD daerah, namun kadang mereka yang parkir tidak memahami itu.

Akung mengutarakan unek-uneknya, dia menceritakan soal keluh kesahnya selama menjadi tukang parkir. Akung yang kini sudah menginjak umur 45 tahun bercanda dengan mengatakan, kalau ucapannya tersebut tidak membuat dirinya masuk penjara, maklum, dirinya hanya orang kecil yang tidak pernah menginjak bangku sekolah sampai ke jenjang SMP. “Maklum saja, saya cuma tamatan SD,” ujarnya.

“Ini nanti tidak masuk penjara saya kan, nanti dibilang lah saya menyamar jadi tukang parkir,” sambung Akung yang diiringi tertawa lepas ketika ditemui di lokasi tempat dia menjaga parkir di Anjungan Pantai Manakarra, Rabu (20/3/2019), pukul 18.00 Wita.

Akung bercerita soal perilaku pengendara ketika dimintai uang parkir. Ia mengatakan, sangat dilema dengan para pejabat yang parkir.

“Kalau pejabat yang parkir kendaraanya jarang bayar retribusi parkir, tapi ada juga yang mengerti, padahal bayar parkir ini masuk ke kas daerah, seharusnya dia harus memberi contoh,” ujar Akung.

Akung yang mengaku sudah menjadi tukang parkir sejak tahun 2016 ini menyebutkan, tidak pernah memarahi setiap pengendara yang tidak membayar parkir.

“Ya mau diapa kalau ada yang tidak bayar parkir, sabar saja, namanya cari rezeki, ya harus sabar, apalagi kalau ditahu dia pejabat, ya begitu, pergi tanpa menoleh kebelakang,” ujarnya.

Akung berharap, para pemarkir bisa memahami kondisi profesinya. “Saya berharap yang parkir bisa mengerti, karena hasilnya juga masuk ke kas daerah,” pungkas Akung.

(usman)

Baca Juga