Kapolres Mamuju Beberkan Beberapa Kriteria Travel Umroh Abal-abal

Gambar Kapolres Mamuju Beberkan Beberapa Kriteria Travel Umroh Abal-abal

Mapos, Mamuju – Belakangan banyak travel umrah yang menjadi sorotan karena gagal memberangkatkan jemaahnya. Kasus tersebut terjadi karena beberapa travel diantaranya melakukan penyelewengan dana jemaah untuk kepentingan pribadi, seperti contoh kasus yaitu First Travel dan beberapa travel haji abal-abal lainnya.

Lalu bagaimana cara membedakan apakah travel haji dan umrah tersebut abal-abal atau tidak?

Kapolres Metro Mamuju, AKBP Mohammad Rivai Arvan, menjelaskan, paket ibadah saat ini mulai marak ditawarkan berbagai travel di berbagai daerah, namun masyarakat perlu lebih jeli dan teliti untuk mengecek kelengkapan surat legalitas dari izin usaha travel haji dan umrah.

“Banyak yang bias kita lihat kalau dia abal-abal, seperti dia tidak memiliki surat resmi dari Dirjen Penyelenggaraan Haji dan umrah Kemenag,” kata Rivai, Jumat (8/3/2019).

Meski demikian, agen perjalanan yang punya izin juga belum tentu aman. Perlu diperhatikan pula aspek lainnya seperti legalitas pembayarannya. Sejumlah perusahaan agen perjalanan haji dan umrah bisa terindikasi abal-abal bila rekening pembayarannya tidak sesuai dengan identitas perusahaan travel yang bersangkutan.

“Kemudian ketika menyetor uang untuk umrah atau haji nama rekeningnya tidak sesuai dengan nama perusahaan travel tapi pakai nomor rekeningnya sendiri,” jelas dia.

Selain mengenai rekening tujuan yang tidak sesuai dengan nama perusahaan travel yang dituju, dirinya juga mengatakan bila ada perusahaan yang menawarkan harga yang umrah dan haji di bawah rata-rata, maka patut dicurigai perusahaan tersebut abal-abal.

Rivai menjelaskan, standar harga untuk 9 hari umrah yaitu sekitar Rp 20 juta. berbeda jika durasi umrah yang dilakukan yaitu 12 sampai 15 hari harganya bisa jauh lebih mahal.

Kemudian travel umrah dan haji yang bertanggung jawab harus memberikan surat rekomendasi resmi kelengkapan administrasi saat membuat paspor bagi jemaah haji. Artinya, bila perusahaan tak memberikan rekomendasi pembuatan paspor, dapat dicurigai perusahaan tersebut adalah travel umrah abal-abal.

Hal ini dibeberkan Rivai lantaran banyaknya masyarakat di wilayah Mamuju dan Mamuju Tengah (Mateng) yang tidak jadi berangkat umroh lantaran tertipu oleh penyelenggara umroh.

Masih soal surat rekomendasi paspor, ia menambahkan, kesesuaian informasi pada surat rekomendasi dengan identitas perusahaan travel umrah yang bersangkutan. Bila identitas yang tercantum tidak sama, calon jemaah patut curiga perusahaan tersebut abal-abal.

“Misalnya kalau mau buat paspor itu surat rekomendasinya harus sama, misalnya jemaah mau buat paspor dari travel A tapi pas dikasih buat rekomendasi buat paspor malah perusahaan B, surat rekomendasinya harus sesuai,” jelas dia.

Hal-hal tersebut perlu mendapat perhatian calon jemaah agar tak bernasib sama dengan korban First Travel.

Rivai mengimbau, kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati jika ada yang menawarkan umroh.

Berikut tambahan beberapa ciri pelaku penipuan penawaran umroh yang dibeberkan oleh Kapolres Metro Mamuju, diantaranya, mengatasnamakan suatu travel namun kantornya tidak jelas alamatnya.

Selanjutnya, alamat kantor jauh dari daerah tempat pelaku beroperasi, seperti contoh, pelaku beroperasi di wilayah Mamuju, namun kantor travelnya di Polman, sehingga menyulitkan masyarakat mengkroscek benar tidaknya pelaku bagian dari travel tersebut.

Kemudian, menyakinkan masyarakat bahwa dengan biaya umroh murah sudah bisa berangkat ditambah lagi dengan modus membawa seseorang yang mengaku pernah berangkat umroh dengan dalih biaya murah.

Kemudian, membuat jadwal keberangkatan umroh yang cukup lama waktunya, hingga tiga sampai enam bulan, bahkan bisa sampai setahun.

“Ini yang paling sering dilakukan pelaku, dengan modusnya untuk mencari konsumen sebanyak-banyaknya serta suka mengulur-ngulur waktu pemberangkatan,” ucap Rivai.

Selanjutnya, kata Rivai, waktu yang dijadwalkan akan berangkat, namun tiba-tiba dibatalkan serta menyuruh para calon umroh menambah biaya Rp 2-3 juta, dengan dalih agar bisa berangkat, namun nyatanya tidak berangkat juga.

Ini yang diperlu diwaspadai, bila ada yang mengaku dari travel umroh kemudian menjemput bola ke rumah warga yang ingin umroh, sehingga mereka para calon umroh hanya tahunya berhubungan dengan sub agent dan tidak pernah langsung diajak ke travel, dengan alasan memberikan kemudahan. Padahal itu adalah modus dari pelaku. “Nah, setelah berhasil mendapatkan korbannya kemudian agent memutuskan hubungan secara langsung dengan konsumen dan menyalahkan sub agent, modus ini paling sering digunakan,” sebutnya.

Selanjutnya, terjadi perubahan maskapai penerbangan yang akan digunakan oleh calon umroh yang akan berangkat. “Ini ciri awal yang paling mudah dikenali dan menunjukkan ketidak profesional dalam mengelola pemberangkatan umroh,” terangnya.

Kemuduan, jika calon umroh batal berangkat lantaran kemauannya, sering kali dipersulit untuk mengembalikan dana yang telah disetor oleh konsumen, bahkan bisa sampai berbulan-bulan atau dengan jangka waktu yang tidak menentu.

Rivai berpesan kepada seluruh masyarakat yang mengalami ciri-ciri seperti yang disebutkan diatas agar segera melapor ke pihak Kepolisian.

“Ini dimaksudkan agar tidak ada lagi korban penipuan berlanjut dan memakan korban baru,” pungkas Rivai.

Selanjutnya, tambah Rivai, travel wajib memiliki kantor di Madinah dan Makkah serta memiliki alamat yang jelas. “Jika alamatnya tidak jelas berarti travel itu hanya menumpang,” ujarnya.

Sebagai informasi, mungkin masih segar dalam ingatan dari Kasus First Travel yang melakukan penggelapan dana terkait dengan perjalanan umrah. Total ada 63.310 calon jemaah umrah yang gagal berangkat mesti sudah membayar lunas.

Kerugian yang dialami 63.310 orang calon jemaah umrah yaitu sebesar Rp 905.333.000.000.

Dalam persidangan 19 Februari lalu, jaksa memaparkan sejumlah paket perjalanan umrah yang ditawarkan First Travel sejak Januari 2015. Ada paket umrah promo 2017 dengan harga Rp 14,3 juta, paket umrah reguler Rp 26,6 juta, serta paket deluxe dan paket VIP yang harganya Rp 54 juta per orang.

Sementara itu ada pula kasus terbaru yaitu Travel umrah Abu Tour Palembang. Sekitar Rp 109 miliar dana jemaah yang hilang dan tidak diketahui kemana aliran dana tersebut. Total dana ini dihitung sesuai jumlah jemaah yang terdaftar sebanyak 8.325 jemaah.

(usman)

Baca Juga
caleg sulbar no 23
caleg sulbar no 27
caleg sulbar no 34
caleg sulbar no 37
caleg sulbar no 39
caleg sulbar no 40
caleg sulbar no 42