Kapolres Majene Sayangkan Aksi Mahasiswa Berujung Bui

0
173

Mapo, Majene — Sekelompok Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahsiswa Islam harus berurusan dengan polisi lantaran aksinya terkait videotrone 30 September 2021 lalu.

Kapolres Majene AKBP Febryanto Siagian, Kamis (7/10/2021) mengatakan, pihaknya telah resmi menahan tiga orang mahasiswa karena diduga telah melakukan pemukulan dan atau pengeroyokan terhadap angota polisi saat aksi demo.

Menurut Kapolres Majene, dari empat orang mahsiswa yang ditetapkan sebagai tersangka, satu orang diantaranya tidak hadir di Polres Majene.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

“Kami telah memanggil empat orang mahasiswa untuk diperiksa. Yang hadir tiga orang, sedangkan satu lainnya tidak hadir. Dari hasil pemeriksaan terhadap korban, saksi dan barang bukti, keempat mahasiswa dinyatakan cukup bukti sehingga ditahan. Kita sudah menahan 3 orang dengan sangkaan pasal 170 KUHP, 351 KUHP, Jo pasal 55,” tegas Febryanto Siagian.

Ia menceritakan ihwal ketika mahasiswa berunjuk rasa pekan lalu dengan tidak mengikuti aturan yang berlaku.

“Hanya selang satu jam usai memasukkan permohonan izin, mereka langsung bereaksi. Setelah, di lapangan, mereka (mahasiswa) berupaya menghentikan kendaraan truk yang tengah melintas di jalan. Kemudian ada niat untuk membakar ban. Dari situ, oleh anggota segera melarang sehingga terjadi pemukulan yang dilakukan oleh oknum adik-adik kami dari mahasiswa terhadap anggota,” beber Febryanto Siagian.

Selaku Forkopinda katanya, dia berharap agar adik-adik mahasiswa menyampaikan pendapat dengan cara-cara yang beradab.

“Setiap orang berhak menyuarakan aspirasinya, tapi dengan cara-cara elegan. Sebagai kaum intelektual silakan melakukan unjuk rasa, tapi jangan anarkis. Lakukan sesuai perundang-undangan yang berlaku,” sebut Febryanto Siagian.

Lebih jauh, Ia juga menyayangkan satu diksi yang dibuat oleh oknum mahasiswa melalui salah satu akun facebook. “Satu lagi diksi yang sangat mengganggu dan sangat mengkhawatirkan kita semua di Sulbar. Ini viral di medsos dengan menyebut ‘Serang, Perang, Lalu Terang’. Saya minta anggota untuk menyelidiki siapa pembuat diksi atau pamflet itu. Apa maunya?” ucap Febryanto Siagian seraya menambahkan bahwa jika sudah ditemukan siapa pembuat, maka juga akan diperiksa karena mengandung unsur hasutan.

Disinggung soal pernyataan berbeda dilontarkan oleh mahasiswa dengan menyebut bahwa bukan mereka yang memulai penganiayaan terhadap polisi melainkan sebaliknya, Febryanto mengatakan, kalau mahasiswa teraniaya seharusnya melapor pada saat kejadian.

“Waktunya kan cukup lama tuh. Mulai 30 September sampai sekarang sudah satu minggu. Mereka tidak melapor. Kita profesional, karena anggota melapor sebagai korban dalam peristiwa itu, jadi kita tindak lanjuti,” ucap Febryanto Siagian.

Sementara itu, salah seorang anggota HMI yang mengaku sebagai Jenderal Lapangan, Bachtiar dikonfirmasi terpisah mengatakan, pada saat unjuk rasa menentang videotrone di Majene, pihaknya kaget melihat ada orang berpakaian biasa masuk ke barisan massa aksi. “Kami kira dia penyusup yang sengaja masuk ke dalam barisan untuk memprovokasi. Ternyata dia polisi,” katanya.

Menurut dia, pihak HMI akan melakukan upaya hukum atas ditahannya ketiga anggota HMI Majene yaitu N, S dan A. “Kami sudah minta LBH HMI untuk mendampingi kawan kami juga menyampaikan kepada ombudsman,” tutupnya.

(fjr/red)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.