Hikmat Nurholis dan SGS PLN Bandung Badminton Club, Bertalenta dengan Segudang Prestasi

0
144

Mapos, Bandung – Nama Hikmat Nurholis akhir-akhir ini menjadi perbincangan di dunia bulutangkis tanah air. Pria kelahiran Garut, 23 September 2002 ini memiliki banyak prestasi yang menjadi harapan besar prestasi bulutangkis Indonesia.

Apalagi pangais bungsu atau anak ke 9 dari 10 bersaudara pasangan Amang Sumarna dan Titin Komala ini bergabung dengan salah satu klub besar di Indonesia. Sejak tahun 2012, dia sudah tercatat sebagai atlet binaan SGS PLN Badminton Club Bandung.

Sejak usia 5 tahun Hikmat sudah mulai badminton. Dan sudah meraih juara untuk kategori pemula. Hikmat memilih main di ganda putra dan mix double.

“Sejak kecil saya dilatih oleh kakak. Tahun 2012 pindah ke SGS PLN, clubnya kakak. Lalu saya dilatih coach Erwin yang saat itu menjadi kepala pelatih SGS PLN Bandung,” tuturnya.

Coach Erwin sering memasangkan Hikmat dengan kakaknya, Agung Wirya Paksi. Artinya, Hikmat tidak turun di kelompok usianya sendiri.

“Alasan coach ketika itu adalah agar punya pengalaman dan permainan saya cepat meningkat. Padahal harusnya saya turun di kelumpok U15, bukan di U17. Alhamdulillah kami berhasil menjadi juara ketiga pada sirkuit nasional di Cirebon pada bulan April 2016 lalu,” ungkap Hikmat.

Di Sirnas Bogor, Hikmat dipasangkan dengan Steven C pada kelas U17. Diakui, lebih nyaman bertanding pada kelas di atas usianya. Namun waktu berjalan dan Hikmat pun harus fokus diusianya sendiri.

Agung sebagai kakak dan pelatih Hikmat, kemudian memasangkannya dengan Rendi Aran Neri. Atlet ini ditarik dari Pusdiklat SGS PLN Bandung. Dari situlah Hikmat fokus untuk bisa masuk AJC Asian Junior Championship dan turnamen nasional lainnya.

Secara umum berpasangan dengan Rendy, prestasi Hikmat tidak terlalu cemerlang. Meski pasangan ini sempat meraih juara pertama se Provinsi Jawa Barat, juara kedua Sirnas Astec Bandung, juara pertama Sirnas U15 di Batam.

“Pada mix double, saya beberapa kali berganti dipasangkan. Akhir dipasangkan dengan, Pinika Anjani. Keponakan sang legenda badminton juara Olimpiade Athena, Taufik Hidayat,” kisahnya.

Hikmat merasa cocok berpasangan dengan Pinika. Hingga sering mendapatkan gelar juara. Prestasi terbaik mereka adalah bisa duduk di podium kedua pada Sirnas primer di Surabaya, dimana pada sirkuti ini banyak pemain asing. Seperti Jepang, Malaysia, Singapura dan lain-lain.

“Besar harapan saya ingin salalu bermain profesional sampai usia 30 tahun. Sekarang saya usia 19, rencananya saya sudah mulai dipertandingan ke luar negeri oleh pelatih yang sekarang. Seperti Thailand Internasional Challange atau Vietnam challenge,” katanya.

Diakui, dia pun ingin sukses menjadi atlet badminton dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga bisa membahagiakan kedua orang tua.

“Kedepan, saya berharap bisa melatih atau jadi atlet badminton di luar negeri. Sehinga bisa mendapat penghasilan yang cukup dibanding disini yang sangat banyak saingan. Pun susah mendapat sponsor. Ya, cita-cita ingin menyusul kakak saya yang sekarang melatih di Amerika,” tutupnya.

(*)

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.