Hadir Bukan Sekedar Memenuhi Quota Perwakilan Perempuan

  • 31 Mar 2019
  • Opini
  • Sudirman Al Bukhori
  • 388
Gambar Hadir Bukan Sekedar Memenuhi Quota Perwakilan Perempuan

Oleh : Dian Daniaty S.Sos

Lihatlah kami yang sedang berjuang
Bukan karena hamparan kemewahan menanti

Bukan karena Air Kemudahan Mengalir
Tapi karena Panggilan Hati Nurani
Panggilan Jiwa yang berkobar
Untuk Mamuju yang lebih baik
Menuju Indonesia yang lebih hebat

Perempuan terpih menjadi anggota legislatif memang karena pantas untuk dipilih, bukan karena adanya kursi yang harus diisi oleh perempuan. Konsep itulah yang harus menjadi dasar utama pemikiran para kaum perempuan yang mengikuti kontestasi pemilihan anggota legislatif 2019.

Kalau begitu konsep dasarnya, maka yang dijual bukan hanya sekedar kecantikan, foto keren di baligho, janji politik yang bertengger di langit atau janji bagi-bagi proyek bagi tim pemenangan atau bahkah money politics “serangan fajar”.

Tidak dapat dipungkiri ada aspek psikologis di sebagian masyarakat yang terlena memilih seseorang karena janji yang irasional ataupun janji sesaat, ada juga yang memilih karena tampilan foto yang cantik tapi tidak mengetahui gagasan untuk memajukan rakyat, lebih ironis lagi jika calon anggota legislatif yang karena beberapa anggota keluarganya terjun ke dunia politik, diapun ikut-ikutan tanpa membekali diri dengan kompetensi mengikuti kontestasi tersebut.

Betul semua perempuan berhak mengikuti kontestasi menjadi calon anggota legislatif, tapi ada kewajiban moral yang harus dipernuhi yaitu bertujuan untuk menjadi pelayan bagi aspirasi rakyat, bekerja sama dengan eksekutif untuk membangun daerah sehingga tujuan adil dan makmur dapat tercapai.

Bagaimana bisa mengerti konsep pembangunan, skala prioritas pembangunan, menyimpulkan dan menganalisa aspirasi rakyat yang kemudian di kristalisasi menjadi program ataupun kegiatan yang bersinergi dengan pemerintah untuk rakyat, jika calon anggota legislatif khususnya calon legislatif perempuan tidak memiliki analisa dan kompetensi menyerap dan melakukan apa yang diinginkan rakyat.

Jangan berlindung dibalik janji manis kampanye atau berlindung di balik quota 30% keterwakilan perempuan untuk duduk di legislatif, tapi berlindunglah pada cita-cita untuk memperjuangakan aspirasi rakyat, berlindunglah dibalik kemampuan kompetensi dan konsep kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama.

Tanyakan kepada kaum perempuan yang mencalonkan diri, mengapa perempuan harus hadir di legislatif?
Perempuan Indonesia berperan bukan hanya dalam keluarga saja, apalagi peran yang dimaknai sempit yaitu memasak, mencuci dan melayani suami. Jauh dari itu, peran perempuan juga menyiapkan generasi penerus dan berkontribusi pada akses pembangunan bangsa.

Kehadiran perempuan di legislatif, salah satu tugasnya adalah memastikan bahwa kaum perempuan nantinya melalui program yang berkerjasama dengan pemerintah, hadir sebagai inisiasi pemberdayaan perempuan, menyiapkan perempuan-perempuan tangguh yang dibekali ilmu dan pengetahuan agar mampu menyiapkan generasi penerus bangsa. Ilmu dan pengetahuan bagaimana cara mendidik anak yang baik, pembentukan karakter anak, pengasuhan yang menggali potensi anak, memperkokoh pengajaran disekolah dan konsep-konsep hubungan orang tua dan anak yang harmonis.

Perempuan di legislatif juga harus mampu mengawal pembangunan pada semua aspek kehidupan baik laki-laki maupun perempuan. Bukan berarti legislatif perempuan hanya konsen terhadap masalah-masalah perempuan saja. Pandangan Objektif terhadap pembangunan kaum laki-laki bisa dilihat lebih jelas dari mata perempuan karena tidak didasarkan pada keinginan saja tapi lebih kepada kebutuhan. Sehingga terjadi keseimbangan pembangunan manusia, bukan hanya kaum laki-laki saja.

Harapan besar ada di pundak kaum perempuan yang berjuang atas nama keadilan dan kemakmuran, bukan pada calon yang mengejar materi dan prestise. Melibatkan perempuan secara aktif di pembangunan merupakan keniscayaan. Memilih perempuan sebagai calon legislatif haruslah berdasarkan rekam jejak yang baik dan kemampuan yang mumpuni, bukan karena fisik, bukan karena janji palsu tapi karena perempuan tersebut perempuan tangguh, perempuan pejuang untuk Mamuju yang lebih baik

Nb. Penulis merupakan caleg Partai Gerindra, Dapil Kecamatan Simboro, Tapalang, Tapalang Barat dan Kecamatan Balabalakang, nomor urut 7.

Dian Daniaty

(*)

Baca Juga