Dinsos dan DP3A Lakukan Pendampingan Terhadap Korban Asusila

Gambar Dinsos dan DP3A Lakukan Pendampingan Terhadap Korban Asusila

Mapos, Mamasa — Siswa SMP yang menjadi korban nafsu bejad ayah, kakak dan sepupunya di Mamasa, masih terus didampingi pemerintah setempat melalu Dinas Sosial bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Mamasa.

Kedua OPD ini melakukan pendampingan terhadap korban sejak menjalani proses pemeriksaan polisi.

Kepala DP3A Mamasa Festy Paotonan, mengatakan, pihaknya setelah menerima informasi adanya kejadian tersebut. Danlangsung mengutus Satgas PPA untuk mendampingi Korban. Tujuan utamanya adalah pemulihan trauma dan gangguan psikis yang dialami korban.

“Ini merupakan amanat undang-undang, sehubungan dengan pemulihan fisik dan psikis korban,” ungkap Festy, Kamis (30/01/2020).

Pendampingan ini akan terus dilakukan sampai korban kembali ke lingkungannya dan bisa menjalani aktifitasnya dengan normal kembali.

Terhadap para pelaku Festy berpesan agar penegak hukun memberi hukuman seberat-beratnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Sementara Kepala Dinsos Mamasa Imanuel, menjelaskan, sesuai dengan tugas dan fungsinya, Dinas Sosial melakukan pendampingan psikososial terhadap korban.

Pendampingan ini dilakukan sejak dari assesment untuk menggali semua persoalan yang dialami korban. Juga memberikan trauma healing terhadap korban hingga benar-benar pulih dari trauma yang dialami. Bahkan pihaknya berjanji akan mendampingi hingga ke proses di meja pengadilan.

“Kami sudah siapkan dua orang yang akan terus mendampingi korban. Termasuk untuk proses di pengadilan. Mengenai berapa lama pendampingan untuk pemulihan psikologisnya, tentu bergantung pada seberapa berat beban psikologis dan trauma yang dialami korban,” katanya.

Selain pendampingan terhadap korban, Dinas Sosial juga telah memberikan santunan kepada ibu korban yang dinilai memang keluarga pra sejahtera.

“Setelah melihat kondisi ekonominya, memang keluarga kurang mampu. Sehingga kami juga memberikan santunan. Setidaknya itu sebagai dukungan psikologis bagi ibu korban yang sekaligus juga adalah istri, ibu, dan tante dari pelaku,” pungkas Imanuel.

(anis)

Baca Juga