Bupati Majene Fahmi Massiara “Dijemput Paksa’ Mahasiswa. Ada Apa ya?

  • 22 Jun 2018
  • Majene
  • Sudirman Al Bukhori
  • 296
Gambar Bupati Majene Fahmi Massiara “Dijemput Paksa’ Mahasiswa. Ada Apa ya?

Mapos, Majene – Desakan pedemo yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Majene (AMM) yang tengah berorasi di Bundaran Tugu Pahlawan Pusat Pertokoan Majene agar Bupati Majene Fahmi Massiara juga turut dalam aksi demo damai yang mereka lakukan melawan kebijakan Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar (ABM) atas pembagian participating interest (PI) Blok Sebuku Pulau Lerek-lerekang terus menguat.

Lantaran Bupati Fahmi Massiara belum menampakkan diri ditengah-tengah demonstran pada waktu yang telah ditentukan, sehingga sejumlah mahasiswa “menjemput paksa” Fahmi Massiara di rumah jabatan bupati Jum’at (22/6/2018) pada pukul 15.00 Wita.

Dengan menggunakan sepeda motor, orang nomor satu di Kabupaten Majene ini membonceng kepada salah seorang mahasiswa.

Di tengah kerumunan massa yang mencapai ribuan orang, Fahmi Massiara sudah ditunggu oleh mantan Bupati Majene Kalma Katta, para Pimpinan DPRD Majene, para anggota DPRD Majene, para pimoinan OPD, para tokoh agama, para tokoh adat, para tokoh masyarakat, para tokoh pemuda, tokoh mahasiswa, perwakilan dari tokoh masyarakat semua kecamatan dan masyarakat sekitar.

Dalam orasi Fahmi Massiara yang sepunggung dengan mantan Bupati Majene Kalma Katta menyebut, pembagian PI wajib dilakukan sesuai notulensi nota kesepahaman atau MoU yang disepakati di Istana Wapres beberapa tahun lalu.

“Ketika persoalan ini mencuat ke permukaan, maka langsung mendapat reaksi yang cukup baik dari pemerintah provinsi. Hal ini dibuktikan saat kita (saudara-saudara) yang berjuang diundang ke Polewali berbicara secara kekeluargaan dan secara informal membahas tentang persoalan ini. Saya sampaikan kepada Gubernur Sulbar agar tidak lagi ribut-ribut kita berpedoman saja pada notulensi MoU di Wapres, 50:50. Selesai persoalan. Dan oleh ABM waktu itu sepertinya menyambut dengan baik,” sebut Fahmi.

Sementara itu, sebelum Fahmi Massiara berorasi, mantan Bupati Majene, Kalma Katta mengatakan, sebagai pelaku sejarah dalam memeperjuangkan PI Blok Sebuku, Pemkab Majene secara bersama-sama Pemprov Sulbar (Guberbur Sulbar Anwar Andan Saleh red) melakuan perjuangan atas Pulau Lerek-lerekang.

“Perjuangan sekarang berbeda dengan perjuangan sebelumnya. Kalau dulu, kita berjuang bersama gubernur (Anwar Adnan Saleh Gubernur Sulbar Saat itu red) memperjuangkan hal-hal yang dibutuhkan di tingkat pusat, baik ke Kemendagri, Mahkamah Agung, maupun Wapres. Hasilnya kita capai pada April. Semua data soal Lerek-lerekang ada di Majene,” ungkap Kalma Katta.

Sayangnya kata mantan Bupati Majene dua periode ini, setelah ada hasil, oleh pihak Pemprov dalam melakukan kebijakan tidak sesuai harapan.

Kalma Katta mengenang ketika seluruh elemen masyarakat melakukan demo untuk mempertahankan Pulau Lerek-lerekang yang diklaim oleh oleh Kalimantan Selatan sebagai miliknya.

“Kita turun melakukan demo kala itu dengan menggunakan pakaian seragam. Waktu itu saya masih Bupati dan wakilnya adalah Fahmi Massiara,” kenang Kalma Katta.

Dia berharap agar perjuangan masyarakat Majene tetap dilakukan demi kesejahteraan untuk seluruh lapisan masyarakat.

(ipunk)

Baca Juga