Belum Juga Genderang Ditabuh, Oknum PPS Ini Sudah Dilaporkan ke Bawaslu

Gambar Belum Juga Genderang Ditabuh, Oknum PPS Ini Sudah Dilaporkan ke Bawaslu

Mapos, Pasangkayu – KPU belum meniup peluit tanda pemilu serentak dimulai. Namun riak politik jelang pemilu 2019 di Kabupaten Pasangkayu semakin menghangat. Dan sejauh ini baru satu kasus yang muncul yakni perobekan APK capres nomor urut 1.

Sementara Bawaslu mengusutnya, muncul lagi kasus tidak populis dan sangat klasik. Yaitu ada oknum Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang diduga membagi-bagikan beras sejahtera (rastra) dengan menyertakan stiker salah seorang caleg dari PDIP.

Dengan menenteng karung rastra yang ditempeli stiker salah satu caleg dari partai pengusung capres pasangan Jokowi dan Ma’ruf,  Dewi bersama suaminya, Jawas, didampingi Abdul Kadir salah seorang pemuda dari Desa Randomayang melaporkan petugas PPS ke kantor Bawaslu.

Oknum PPS tersebut, Asriani, adalah anak dari Kepala Dusun Salungalugu 1 Desa Randomayang ini dilaporkan Abdul Kadir. Oknum itu juga dituding memaksa warga untuk memilih caleg PDIP itu yang saat ini mejabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pasangkayu.

Syamduddin sedang menerima laporan dan menyelediki kasus

“Kami sudah registrasi laporan itu. Kami pun sudah menggelar rapat tahap pertama untuk memastikan laporan ini memenuhi syarat formil dan materil untuk dibahas lebih mendalam. Bahkan kemungkinan untuk ditingkat ke Gakumdu dimana di dalamnya ada kepolisian dan kejaksaan,” terang Devisi HPP dan Sengketa Bawaslu Kabupaten Pasangkayu Syamsuddin, Senin (24/12/2018).

Sesuai dengan peraturan pengawas pemilu UU NO 7 Tahun 2018 tentang penanganan temuan dan laporan pelanggaran pemilu, lanjutnya, Bawaslu Pasangkayu sudah memanggil para pihak terlapor dan pelapor untuk dimintai klarifikasi.

Sementara oknum PPS yang dilaporkan, menurut Syamsuddin akan di cek dan dipastikan pasal yang menjeratnya. Bawaslu sampai hari ini masih melakukan penyelidikan.

Sementara itu, Abdul Kadir mengaku mendapat informasi pertama dari Jawas.

“Saya langsung mengecek ke rumah Dewi dan ternyata betul ada stiker yang menempel di  rastra. Rastra itu bantuan pemerintah, bukan parpol. Dari situ kami menilai, ini pelanggaran berat karena yang membagikan petugas PPS. Karena itulah kami laporkan,” tutur Kadir.

Dikonfirmasi dikediamannya, Asriani  membantah keras semua tuduhan. Bahkan dia kembali menuding pelapor berbohong atas laporannya.

“Tidak ada stiker ditempelkan pada beras! Jangankan ditempel, mengambil beras saja dilakukan sendiri oleh warga karena mereka tahu itu adalah hak mereka.Ini sudah ketiga kalinya mereka menerima bantuan dari pemerintah,” terang Staf Sekretariat PPS Pasangkayu ini.

Disebutkan, stiker diambil sendiri oleh warga. Yang kebetulan letak stiker itu berada di dalam rumahnya.

Tak hanya itu. Asriani bahkan menuding balik Dewi, nenek dari Abdul Kadir. Dengan lantang, Asriani mengungkap fakta.

“Abdul Kadir adalah saudara dari oknum salah satu caleg dari Partai PKB  yang ada di dapil ini,” katanya dengan nada tinggi.

Salah seorang penerima rastra, Fatimah, mengaku heran dengan adanya laporan itu.

“Rastra di rumah Asriani diambil sendiri. Namun disaat yang bersamaan ada stiker di atas sebuah spiker, sehingga kami ambil sendiri tanpa ada perintah dari Asriani,” akunya.

(joni banne tonapa)

Baca Juga