Arifuddin Toppo: Semua Berperan Meningkatkan Pendidikan di Sulbar

0
138
Document.

Mapos, Mamuju – Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal.

Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

https://mamujupos.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20210212-WA0059.jpg

Mengawali kepemimpinannya selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulbar, Drs. H. Arifuddin Toppo mengundang para praktisi pendidikan diantaranya, Kepala Sekolah SMA, SMK se Kabupaten Mamuju, Dewan Pendidikan Sulbar, organisasi kemahasiswaaan dan Ombudsman perwakilan Sulbar melakukan pertemuan dialog mengenai masalah Pendidikan di Sulbar di aula Kantor Gubernur Sulbar yang dihadiri oleh Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar. Rabu (23/5/2018).

Kepala Diknas Prov. Sulbar, Arifuddin mengatakan, permasalah pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah dan praktisi pendidikan saja. Semua komponen memiliki peran dalam mengembangkan pendidikan di Sulbar

“Hadirnya kita disini menjadi tanggung jawab bersama untuk membicarakan berbagai masalah pendidikan. Kita ingin kualitas pendidikan di Sulbar dapat meningkat,” kata Arifuddin.

Sementara itu, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar (ABM) mengatakan, kualitas pendidikan di Sulbar masih berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kalangan pengelola dan praktisi pendidikan di Sulbar harus melakukan lompatan-lompatan untuk dapat mengejar ketertinggalan dari provinsi Lainnnya yang ada di Indonesia.

Menurutnya, berdasarkan indikator IPM, Sulbar berada pada posisi terendah ketiga. Ini yang harus diperhatikan secara serius.

Solusinya untuk mengejar ketertinggalan itu, kata ABM, adalah kalangan pengelola pendidikan harus melakukan lompatan-lompatan pemikiran dan tindakan untuk mengejar ketertinggalan ini.

Para praktisi pendidikan harus berani melakukan kreativitas dalam mengelola pendidikan, misalnya inovasi kurikulum dan intensitas lenilaian kepada peserta didik agar hasil yang dicapai lebih terukur.

“Kualitas lendidikan terletak di tangan para tenaga pendidik, para guru harus berani melakukan terobosan, baik inovasi kurikulum maupun metode penilaian agar hasil pembelajaran itu lebih terukur,” sebutnya.

Ditempat yang sama, Ketua Dewan Pendidikan Ansar Nur Hasanuddin, mengatakan, persoalan pendidikan yang dihadapi Sulbar saat ini, antara lain rendahnya angka partisipasi pendidikan, kompetensi guru dan juga pemetaan tenaga guru yang belum merata.

”Masalah Pendidikan yang kita hadapi saat ini, antara lain rendahnya angka partisipasi kasar, pemetaan guru yang belum merata, dan Kompetensi guru yang juga belum maksimal, masih banyak tenaga guru yang belum berkualifikasi setara D4, terutama untuk guru SLTP dan SD,” ujarnya.

Untuk pengelolaan guru dan PTT untuk SMA dan SMK, diharapkan kepada pihak Pemprov Sulbar melalui Dinas Pendidikan Sulbar, untuk segera menerbitkan Peraturan Gubernur sebagai dasar untuk membayarkan gaji para Guru tidak tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di SMA dan SMK.

Document.

“Kami berharap Pemprov segera menerbitan Pergub sebagai dasar untuk pembayaran gaji bagi GTT dan PTT. Selama ini mereka tidak bisa mendapatkan gaji lantaran belum terbitnya peraturan tersebut, kata Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Mamuju, Nurhalimah.

(usman)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.