Aduh…Ada Pasangan Lansia, Cucu dan Cicit Tinggal di Satu Gubuk Reot

Gambar Aduh…Ada Pasangan Lansia, Cucu dan Cicit Tinggal di Satu Gubuk Reot

Mapos, Mamasa – Kembali viral, potret kemiskinan dari pinggiran Kota Mamasa. Tepatnya di Dusun Dengen Desa Osango, Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa. Dari kota Mamasa hanya berjarak sekitar 2 kilo meter.

Di sebuah bukit di dusun itu, terdapat sebuah gubuk reot nyaris roboh  berukuran 2 x 3 meter. Dihuni oleh pasangan lansia, Pappa (74) dengan  Maryam. Bersama bersama mereka ada seorang cucu dan seorang cicit yang masih berusia 2 tahun.

Gubuk reot beratap alang-alang dan dinding anyaman bambu ini, sudah jadi rumah tinggal pasangan lansia ini sekitar 16 tahun. 

Kepada sejumlah awak media yang bertandang ke gubuk tersebut, Selasa (14/01/2020), Maryam mengisahkan, gubuk yang mereka tempati saat ini adalah bangunan yang dipindah dari lokasi perumahan di Dusun Dengen yang pernah mereka tempati sementara. Mereka pun pindah saat lokasi tersebut dibanguni perumahan oleh Pemerintah Daerah.

“Itu lokasinya kakak yang kami pinjam. Tapi sudah dibanguni perumahan, ya kami pindah kesini,” tutur Maryam.

Ketidakberdayaan ekonomi, membuat mereka hanya bisa bertahan dalam gubuk reotnya yang sekarang sudah nyaris rubuh termakan usia. Tiang penyanggah di semua sisi telah miring, sementara atap dan dindingnya kini telah bocor-bocor. Sehingga ketika musim hujan tiba, air hujan menetes tembus kedalam rumah dan membasahi mereka. Untung ada sisa-sisa  potongan atap seng yang mereka pungut. Paling tidak, bisa membantu menutup bocoran atap.

Maryam mengaku, tidak ada bantuan pemerintah yang mereka terima saat ini.

“Pernah terima beras raskin, tapi sudah tidak ada lagi,” akunya.

Kondisi rumah reot di Dusun Dengen Desa Osango, Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa, Foto : Anis

Diusia senjanya, suami Maryam, Pappa (74) harus bisa menafkahi istri bersama cucu dan cicit yang temani mereka. Selain berkebun di sekitar pekarangan rumah, dengan bermodalkan keahlian membuat anyaman nyiru dan sangkar kurungan ayam (Bussan : Mamasa)  menjadi tumpuan untuk menyambung hidup. Satu nyiru atau Sangkar, biasa dikerjakan dalam tiga hari baru dijual dengan harga Rp60 ribu rupiah.

“Biasa tiga hari kalau bahannya baru diambil. Dijual Rp60 ribu per bussan,” kata Pappa.

Tak banyak yang bisa diperbuat, mereka hanya pasrah menerima kenyataan ini. Hanya air mata yang menetes diwajah Maryam pada saat bercerita tentang kondisi hidupnya. Seraya menyatakan harapannya ada pihak yang bisa membantu mereka keluar dari kondisi ini. Setidaknya bisa hidup di rumah yang layak, seperti masyarakat pada umumnya.

(anis)