Mapos, Majene — Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kampus yang berada di Provinsi Sulawesi Barat itu menjadi satu dari 11 perguruan tinggi negeri (PTN) se-Indonesia yang berhasil memperoleh pendanaan Program Resona Saintek 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Dalam program tersebut, UNSULBAR mengusung gagasan “Etnobahari Mandar”, sebuah program yang memadukan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan kearifan lokal masyarakat Mandar.
Program ini diarahkan untuk mengkomunikasikan hasil-hasil riset, khususnya di bidang kemaritiman, agar lebih mudah dipahami dan diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang berada di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Tidak sekadar menghasilkan penelitian, program Etnobahari Mandar juga menitikberatkan pada bagaimana hasil riset dapat sampai kepada masyarakat melalui berbagai platform komunikasi digital.
Sejumlah produk komunikasi yang akan dikembangkan antara lain podcast, video, Reels, TikTok, serta berbagai bentuk konten digital lainnya.
Langkah tersebut dinilai penting karena hasil penelitian perguruan tinggi selama ini tidak cukup hanya berhenti di ruang akademik. Pengetahuan yang dihasilkan dari riset perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang lebih sederhana agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui Etnobahari Mandar, UNSULBAR berupaya menjadikan kekayaan pengetahuan dan budaya maritim masyarakat Mandar sebagai bagian dari komunikasi sains yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Pemanfaatan AI diharapkan dapat memperkuat produksi dan penyebaran konten, sementara kearifan lokal menjadi identitas utama yang membedakan program tersebut.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi hasil riset dan literasi sains di tengah masyarakat.
Dengan diperolehnya pendanaan Resona Saintek 2026, UNSULBAR diharapkan tidak hanya semakin produktif dalam menghasilkan penelitian, tetapi juga mampu memastikan hasil penelitian tersebut benar-benar hadir dan memberi dampak bagi masyarakat.
Prestasi tersebut menjadi momentum bagi UNSULBAR untuk terus mendorong riset yang berangkat dari potensi lokal, namun memiliki nilai dan manfaat yang dapat diperluas hingga tingkat nasional.
“Etnobahari Mandar” pun diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik, teknologi, budaya lokal, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pengetahuan yang lebih inklusif dan berdampak.
(*)






