Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, TELINGA kita bukan sekadar alat mendengar, ia adalah rahim batin. Apa pun yang kita dengar akan tinggal, tumbuh, lalu suatu hari “lahir” dalam bentuk pikiran, perasaan, dan sikap hidup.
Sering kali kita mendengar tanpa sadar. Kita membiarkan telinga dipenuhi keluhan, kemarahan, gosip, berita yang menakutkan, atau kata-kata yang melemahkan. Tanpa kita sadari, semua itu mengendap di dalam diri. Lama-kelamaan, hati menjadi gelisah, pikiran menjadi sempit, dan hidup terasa berat.
Al-Qur’an mengingatkan kita tentang akibat dari tidak hadirnya kesadaran dalam mendengar. Allah menggambarkan penyesalan penghuni neraka:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: Sekiranya dahulu kami mau mendengar atau mau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”
(QS. Al-Mulk: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa kebinasaan bukan karena telinga tidak berfungsi, tetapi karena manusia tidak menghadirkan hati saat mendengar kebenaran. Mereka mendengar, tetapi tidak benar-benar “mendengar”. Suara kebenaran tidak pernah dikandung oleh batin, tidak tumbuh, dan tidak pernah lahir menjadi iman dan amal.
Di sinilah makna mindful listening: mendengar dengan sadar, dengan hati yang hadir, dan dengan akal yang bekerja.
Kita belajar memilih: mana suara yang menenangkan, mana yang merusak; mana yang mendekatkan pada cahaya, mana yang menjerumuskan pada gelap.
Ketika telinga kita lebih sering diisi dengan nasihat, ilmu, ayat-ayat Allah, dan kata-kata yang menguatkan, maka batin akan mengandung harapan. Dari sanalah akan lahir ketenangan, kejernihan, dan kebijaksanaan.
Menjaga telinga sejatinya adalah menjaga hati. Sebab apa yang kita dengar hari ini, itulah diri kita di masa depan.
(***)






