Taking the Good, Strategi Memulai hidup 2026

Secangkir Kopi

Oleh : Hajrul Malik *

Mapos, ALHAMDULILLAH, kita telah melewati tahun 2025.

Hari ini, kita kembali diberi kesempatan menghirup napas pertama di tahun 2026. Sebuah anugerah yang sering terasa biasa, padahal sesungguhnya luar biasa.

Kita sadar, hidup ke depan tidak selalu menjadi lebih mudah. Ujian, cobaan, dan tantangan akan tetap hadir dengan berbagai bentuk dan skalanya. Dunia ini memang bukan tempat tanpa luka, tetapi ruang pembelajaran bagi jiwa-jiwa yang ingin tumbuh.

Allah telah mengingatkan kita:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 155)

Pengalaman hidup, baik maupun buruk, akan tetap hadir di tahun 2026 sebagaimana di tahun 2025. Yang membedakan bukan peristiwanya, tetapi cara kita memaknainya.

Di sinilah pentingnya sebuah kesadaran yang disebut taking the good sengaja menghadirkan pengalaman baik ke dalam kesadaran kita, menyimpannya dalam memori batin, dan membiarkannya menguatkan jiwa.

Kita tidak menolak luka. Kita tidak mengingkari ujian. Namun kita memilih untuk tidak tinggal terlalu lama di dalamnya.

Kita belajar merasakan kebaikan dengan sengaja: merasakan syukur saat bangun pagi, menyadari masih bisa bernapas tanpa alat, merasakan kehangatan keluarga dan menyadari bahwa Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Inilah rahasia kebahagiaan yang sering terlupa.

Allah berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

(QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya ucapan di lisan, tetapi latihan batin melatih hati untuk menangkap kebaikan sekecil apa pun yang hadir dalam hidup.

Secara psikologis, otak manusia memang unik. Ia seperti teflon terhadap kebaikan mudah tergelincir dan cepat lupa.

Namun terhadap luka, kecewa, stres, dan rasa sakit, ia seperti velcro mudah melekat dan sulit dilepaskan.

Karena itu, kita perlu melatih diri secara sadar: menyimpan pengalaman baik lebih lama, mengendapkannya dalam hati dan menjadikannya energi untuk melangkah.

Inilah makna taking the good, bukan menutup mata dari realitas pahit, tetapi memilih untuk memberi ruang lebih luas bagi cahaya.

Banyak pengalaman baik di tahun 2025 yang patut kita rawat: doa yang dikabulkan diam-diam, pertolongan yang datang tanpa diduga, orang-orang yang hadir di saat kita lemah dan kekuatan untuk tetap bertahan.

Semua itu adalah bekal batin untuk 2026. Karena kebahagiaan sejati bukan tentang hidup tanpa ujian, tetapi tentang kemampuan melihat rahmat di balik setiap ujian.

Semoga di tahun ini, kita semakin terampil mengambil yang baik, menyimpan yang menenangkan dan melepaskan yang melelahkan.

Selamat menapaki 2026 dengan hati yang lebih sadar, lebih lapang, dan lebih bersyukur.

Patiddi, 1 januari 2026

(***)

 

*Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat bidang Kerjasama Antar Lembaga
error: Maaf... ! Web ini di Protek yaaa...