Oleh: H. Hairul Malik *
Mapos, DITENGAH derasnya arus informasi digital dan tantangan budaya konsumtif yang kian menggerus minat baca anak bangsa, Gubernur Sulawesi Barat, Bapak Suhardi Duka, mengambil langkah berani dan visioner dengan meluncurkan Gerakan Sulbar Mandarras. Ini bukan sekadar program populis, melainkan sebuah inisiatif strategis yang berakar kuat pada kearifan lokal sekaligus menjawab kebutuhan mendesak akan peningkatan kualitas sumber daya manusia kita.
Frasa Mandarras bukanlah istilah asing di telinga masyarakat Mandar. Berasal dari serapan bahasa Arab darasa yang berarti belajar, mandarras dalam konteks budaya kita memiliki makna yang lebih dalam: membaca ulang, menelaah detail, memahami secara mendalam, bahkan merenungkan setiap ilmu yang diperoleh. Inilah esensi pembelajaran sejati—bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan proses penyerapan dan penghayatan yang mengubah pandangan dan perilaku.
Maka, ketika Gubernur menetapkan syarat minimal membaca 20 judul buku bagi setiap siswa SMA/SMK sebagai bagian dari kelulusan, beliau tidak hanya berbicara tentang kuantitas. Beliau sedang mendorong kita untuk menginternalisasi semangat mandarras itu sendiri. Ini adalah ajakan untuk meninggalkan kebiasaan membaca superfisial dan beralih kepada pembentukan karakter melalui literasi yang mendalam dan bermakna.
Gerakan Sulbar Mandarras adalah manifestasi nyata dari komitmen pemerintah daerah untuk membangun peradaban dari hulu, yaitu melalui pendidikan dasar dan menengah. Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami dunia, berpikir kritis, dan mengembangkan empati. Generasi yang terbiasa mandarras akan tumbuh menjadi pribadi yang reflektif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Sinergi yang terbangun dalam gerakan ini patut kita apresiasi. Dinas Komunikasi, Informatika dan Digitalisasi (Komdigi) mengemban peran penting dalam penyediaan infrastruktur dan dukungan teknologi. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan memastikan ketersediaan bahan bacaan yang beragam dan relevan. Dinas Pendidikan merancang kurikulum dan metode pengajaran yang mendukung pembiasaan membaca. Dan yang tak kalah penting, Dinas Pemberdayaan Perempuan Sulbar turut berperan dalam menggerakkan peran ibu dan keluarga sebagai garda terdepan penumbuh minat baca di lingkungan domestik. Ini adalah kolaborasi holistik yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Tentu, setiap perubahan besar akan menghadapi tantangan. Ketersediaan akses buku yang merata, kualitas bacaan yang sesuai, serta bimbingan dari guru dan orang tua akan menjadi kunci. Namun, dengan semangat kebersamaan dan tekad kuat untuk mencetak generasi Mandar yang cerdas dan berkarakter, saya optimistis bahwa Gerakan Sulbar Mandarras akan menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan Sulawesi Barat di masa depan. Mari kita dukung penuh inisiatif mulia ini, demi generasi emas yang berpegang pada akar budaya, namun mampu menatap dunia dengan wawasan luas.
*Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Barat Bidang Antar Lembaga
(**)






