Oleh : Hajrul Malik *
Mapos, DALAM hidup, kita meyakini bahwa segala sesuatu berjalan dalam koridor takdir. Namun menariknya, di balik takdir itu, ada pola perilaku tertentu yang membuat sebagian orang tampak selalu beruntung, sementara yang lain merasa hidupnya berulang kali sial.
Pertanyaan inilah yang diteliti oleh Dr. Richard Wiseman, seorang psikolog dari University of Hertfordshire. Ia meneliti 100 orang yang merasa hidupnya selalu beruntung dan 100 orang yang merasa hidupnya selalu sial. Menariknya, keberuntungan dan kesialan itu bukan diukur dari kekayaan semata, tetapi dari cara mereka memandang dan merespons hidup.
Hasil risetnya menemukan 4 faktor utama keberuntungan, ditambah 1 faktor penguat. Bahkan yang lebih mengejutkan, ketika orang-orang yang merasa “sial” dilatih menjalankan kebiasaan orang beruntung, tingkat keberuntungan mereka meningkat secara signifikan. Artinya, keberuntungan bisa dilatih.
Tulisan ini akan mengulas faktor pertama, yaitu:
Kemampuan mengenali dan menangkap peluang.
Faktor Pertama: Orang Beruntung Mampu Mengenali Peluang
Menurut Richard Wiseman, orang beruntung bukan karena nasibnya lebih baik, tetapi karena mereka lebih peka melihat peluang yang sebenarnya tersedia untuk semua orang. Ada tiga jurus utama agar seseorang mampu mengenali peluang dalam hidupnya.
Jurus Pertama: Terbuka pada Ide Baru
Orang beruntung memiliki kebiasaan membuka pikiran dan membuka hati terhadap ide-ide baru. Mereka tidak buru-buru menolak, apalagi mencibir sesuatu yang belum dikenal. Sikap mental ini membuat mereka:
Lebih mudah menemukan ide segar. Lebih cepat merespons perubahan. Lebih sering berada di situasi yang menghadirkan peluang
Ide baru sering lahir dari mendengar, bukan dari merasa paling tahu. Dari membaca hal baru, berdiskusi lintas bidang, atau sekadar mendengarkan cerita orang lain tanpa prasangka.
Karena senang merespons ide baru secara positif, orang beruntung bertemu orang baru yang tepat, lalu berani mencoba pengalaman baru. Dari sinilah peluang sering muncul.
Jurus Kedua: Memilih Lingkaran Pergaulan
Orang beruntung sadar bahwa keberuntungan itu menular, begitu pula kesialan. Karena itu mereka berinvestasi waktu untuk bergaul dengan orang-orang yang:
Cara berpikirnya positif
Wawasannya luas
Energinya membangun
Dalam Islam, Nabi ﷺ sudah lama mengajarkan prinsip ini melalui perumpamaan yang sangat indah:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu wewangian, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mencium bau harum. Sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau tidak sedap.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang beruntung senang bergaul dengan orang-orang yang juga beruntung, karena pola pikir, kebiasaan, dan energi mereka saling menguatkan. Sebaliknya, terlalu lama berada dalam lingkaran yang gemar mengeluh dan berpikir negatif, sering kali membuat kesialan terasa “menular”.
Jurus Ketiga: Bersikap Rileks dan Santai
Ciri lain orang beruntung adalah mereka lebih rileks dalam menghadapi hidup. Bukan berarti malas atau tidak serius, tetapi tidak tegang berlebihan.
Sikap santai membuat pikiran lebih jernih, sehingga peluang yang halus dan kecil tidak terlewatkan. Karena itu, sesekali sengaja bertemu orang-orang yang rileks, berbincang ringan, tertawa, dan membicarakan hal-hal sederhana—itu bukan membuang waktu, justru menyuburkan peluang.
Salah satu tanda orang rileks adalah murah senyum. Mudah tersenyum pada siapa saja. Hehe… tentu bukan senyum ke tiang listrik ya 😊.
Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa senyum tulus (Duchenne smile) dapat merangsang pelepasan hormon endorfin dan serotonin yang berkaitan dengan rasa bahagia dan ketenangan (penelitian oleh Dr. Paul Ekman dan dikembangkan dalam riset positive emotion oleh Barbara Fredrickson). Kondisi emosional yang lebih positif membantu sistem imun bekerja lebih baik, meski tentu tidak bisa disederhanakan sebagai “obat kanker”, namun emosi positif terbukti berkontribusi pada kesehatan tubuh secara umum.
Latihan Senyum dan Teladan Nabi ﷺ
Senyum juga pernah digunakan sebagai pendekatan terapi perilaku. Dalam psikologi dikenal sebagai facial feedback hypothesis, di mana gerakan wajah dapat memengaruhi emosi. Beberapa terapi depresi ringan menggunakan latihan tersenyum di depan cermin atau menggigit pensil untuk mengaktifkan otot senyum (dipelajari dalam riset klasik oleh Strack, Martin, & Stepper).
Yang lebih indah, Nabi Muhammad ﷺ telah jauh lebih dahulu mengajarkannya sebagai amal spiritual:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)
Senyum yang dimaksud bukan senyum kosong, tetapi senyum tulus, senyum yang lahir dari hati yang lapang.
(***)






