Penyidik Polres Polman Diduga Rekayasa Kasus

Gambar Penyidik Polres Polman Diduga Rekayasa Kasus

Mapos, Polman – Kata tidak profesional mungkin pantas disandangkan kepada oknum-oknum penyidik di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Polman.

Betapa tidak, dalam kasus dugaan asusila yang dialamatkan kepada Rahul (18) yang kini jadi tersangka terkesan direkayasa oleh penyidik.

Menurut saudara Rahul, Ayu, Rahul adalah orang yang diduga dijadikan “Kambing hitam” oleh penyidik dalam kasus tersebut.

Penyidik juga diduga merekayasa BAP dengan meminta kepada Rahul untuk mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya dengan iming-iming akan dilepaskan bila tersangka mengaku.

Saat dihubungi via seluler, saudara tersangka Rahul, Ayu menceritakan kronologis kejadianya.

Peristiwa itu berawal perempuan ID datang ke rumah Rahul. Lantaran tidak enak dengan tetangga, Rahul menyuruh dirinya (Ayu, red) untuk membawa ID ke kosnya.

Dirinya pun kemudian membawa ID ke kosnya untuk tinggal sementara.

“Pada saat itu, ID saya tinggalkan di kos karena ada seminarku di Mamuju. Saya pun kemudian ke Mamuju. Seminggu saya di Mamuju,” kata Ayu. Selasa (12/3/2019) malam.

Setelah pulang dari Mamuju, rekannya bertanya kepada dirinya. “Siapa itu anak-anak di kosmu, saya bilang itu sepupuku, teman saya bilang sembarang itu ambil cowok keluar masuk,” ucap Ayu.

Lanjut Ayu, ID kemudian pamit ingin tidur katanya di teman kosnya, dan ternyata ID pergi dengan dua atau tiga orang cowok.

“Setelah itu, ID tidak pernah kembali lagi ke kos,” kata Ayu.

Selang beberapa minggu kemudian ID kembali lagi kos. “Saya bertanya, kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang, kenapa tidak pulang saja ke rumahmu? ID bilang “tidakjie kak Ayu, takutka sama mamaku dan kakakku,” Saya bilang “Sinimi, saya yang antar pulang, tapi tetap ID tidak mau dengan alasan sering katanya dipukul sama saudaranya,” tutur Ayu.

Dijelaskan oleh Ayu, awal kedatangan ID ke kosnya, pada bulan Juli 2018.

Ayu melanjutkan, sebelum kejadian menimpa Rahul, Ibnu datang ke rumah Rahul dan menjemput ID.

Beberapa hari kemudian, Rahul ke rumah Ibnu. Kedatangan Rahul untuk meminjam uang kepada Ibnu.

Ibnu pun kemudian meminta kepada Rahul untuk membelikan minuman keras. Rahul katakan, dirinya tidak minum. Ibnu katakan, kalau tidak minum tidak akan diberikan pinjaman uang.

Karena ingin mendapatkan pinjaman uang, Rahul kemudian menuruti kemauan Ibnu untuk keluar mencari minuman. Namun ia tidak mendapatkan minuman yang dimaksud.

Lantaran tak mendapatkan minuman, Ibnu pun kemudian keluar untuk mencari minuman dan beberapa menit, Ibnu datang dengan membawa beberapa botol minuman keras.

Mereka kemudian menikmati minuman itu. Berselang beberapa menit, ID pun datang dan berkata, “Kenapa tidak ajakka juga minum. Rahul katakan, jangan mako minum karena perempuan ko,” kata Rahul seperti ditirukan Ayu.

Lantaran ditolak untuk ikut minum, ID kemudian marah-marah dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada Rahul.

Meredam kemarahan ID, akhirnya Rahul membolehkan ID ikut bergabung dan menikmati minuman itu.

“Rahul katakan ke ID, minum mi terserah kamu saja,” cerita Ayu.

Merasa pusing, akibat dari pengaruh minuman, Rahul kemudian pergi ke kamar Ibnu untuk berbaring. Beberapa menit kemudian, Ibnu bersama ID masuk ke kamar tempat Rahul baring.

“ID ditengah, pada saat itu. Rahul sama Ibnu di pinggir. Sambil baring, ID menaikkan kakinya di paha Rahul. Rahul dipeluk, dicium. Rahul kemudian menolak dan bangun dari pembaringannya dan langsung pulang meninggalkan ID dan Ibnu berdua,” ujar Ayu.

Ayu katakan, dirinya sempat ketemu dengan adiknya, Rahul dan menanyakan, dari mana. Rahul katakan dari rumahnya Ibnu.

Usai magrib, Rahul dan pacar ID bernama Olleng ke rumah Ibnu. Sesampai disana, semua kursi, meja, berhamburan dan tangan Ibnu berdarah. ID terlihat menangis. Rahul pun bertanya kepada Ibnu. “Ibnu, kamu apakan itu ID, Ibnu katakan jangan dulu ajak bicaraka, pusing ka ini,” ucap Ayu.

Kemudian lanjut Ayu, ID tiba-tiba berteriak dan bilang, kasih pulang ka, kalau tidak dikasi pulang, teriak-teriak ka. Kemudian ID berteriak lagi dan mengatakan, “Kau perkosaka,” sambil menunjuk kearah Rahul.

Meredam kejadian itu, Ibnu kemudian mengantar ID pulang dan Ibnu memberikan ID uang sebesar Rp50 ribu.

Dari kejadian itu, tepat pukul 00.15 Wita, ID bersama kakaknya mendatangi rumah Rahul.

“Tengah malam itu, datang ID bersama kakaknya ke rumah, kemudian Rahul dipukul sama kakaknya ID. Rahul yang tidak tahu masalah kemudian bertanya, apa..apa ini. Kakaknya bilang kau perkosa adikku ID,” terang Ayu.

Singkat cerita, proses pun berlangsung di Kepolisian, Rahul diproses sedangkan Ibnu tidak.

Awal pemeriksaan, Rahul tetap pada pendiriannya, menolak tuduhan yang dilontarkan kepadanya.

Bahkan pada saat penyidik inisial I dan S melakukan pemeriksaan terhadap Rahul, penyidik kemudian membujuk Rahul.

“Kalau kamu mengaku paling cuma dua minggu diproses setelah itu lepas,” kata Ayu menirukan perkataan penyidik yang didengarnya dari adiknya Rahul.

“Adik saya kemudian katakan ke penyidik, kita mami yang atur,” lanjut Ayu menirukan perkataan adiknya Rahul.

Dirinya juga sempat menanyakan kepada penyidik, kenapa Ibnu tidak ditahan, dengan tidak profesionalnya, penyidik katakan, Ibnu masih dibawah umur. “Pada hal pada saat kejadian, Ibnu lah yang termasuk dalam Perisitwa itu,” jelas Ayu.

Ayu juga katakan, pada saat kejadian Rahul juga masih dibawah umur.

“Adik saya itu pada saat kejadian masih berumur 17 tahun,” beber Ayu.

Dan yang paling mengherankan, kata Ayu, pada saat rekonstruksi kasus, penyidik membacakan BAP Rahul, dalam BAP tertulis, Rahul memaju mundurkan anunya dan ID dibawa Rahul dan mengeluarkan s**p di kasur dan di perut.

Mendengar isi BAP yang dibacakan penyidik, Rahul menolak dan mengatakan. “Apa ini, saya tidak melakukan seperti isi di BAP, tidak betul itu,” Dan dengan nada keras penyidik I katakan, “Kamu harus akui BAP mu, kamu harus rekon sesuai dengan BAP mu,” kata penyidik ketus. Kemudian I menyuruh penyidik satunya inisial S melanjutkan membacakan isi BAP Rahul.

“Usai rekon, kata Rahul, ada lagi tiga orang yang mencoba melakukan persetubuan terhadap ID tapi tidak jadi,” kata Ayu.

“Dari rekon itu, Ibnu mengakui sendiri bahwa pada saat kejadian, Ibnu juga turut memegang tangan ID, kemudian ada yang memegang payudara ID dan tidak berhasil disetubuhu karena ID ancam akan berteriak. Kata ID, kalau kamu semua akan perkosa saya, saya akan teriak, maka tindakan pemerkosaan itu tidak jadi,” tambah Ayu.

Menurut keterangan Rahul yang diterukan ke Ayu, setelah Rahul pulang dari rumah Ibnu, ada tiga orang yang mencoba melakukan persetubuhan terhadap ID tapi tidak jadi.

Sementara itu, Pengacara Rahul, Syarifuddin mengatakan, dari keterangan kliennya, bahwa kliennya tidak melakukan seperti yang dituduhkan, dan yang melakukan itu bukan Rahul tapi ada orang lain.

Dia mengatakan, pengakuan dari kliennya, bahwa, kliennya diberi angin segar oleh penyidik, “Kata penyidik, akuimi saja seolah-olah kamu yang melakukan supaya kamu bisa dibantu di Polres dan cuma seminggu atau dua minggu sudah bisa pulang,” katanya menirukan perkataan kliennya.

“Ternyata sampai sekarang, sudah 72 hari kliennya masih ditahan,” tambahnya.

Kemudian, yang dirasakan oleh Rahul dan keluarganya tidak ada penyampaian perpanjangan penahanan dari Polres ke pihak keluarganya, padahal alamat kliennya jelas.

Dia mengatakan, menurut hukum acara pidana, maka setiap penahanan dan perpanjangan, seharusnya ada penyampaian untuk pihak keluarga sebagai tembusan.

“Saya melihat bahwa dalam kasus ini masih ada pihak yang tidak dilibatkan. Kenapa yang lain tidak dilibatkan sedangkan pada saat kejadian kliennya tidak berada ditempat kejadian,” sebut Syarifuddin, Rabu (13/3/2019).

Apalagi lanjut dia, yang menjadi pertanyaan pasal yang dikenakan oleh kliennya tidak masuk akal, dan pada saat kejadian kliennya masih dibawah umur.

“Ini yang menjadi pasal yang dikenakan 81 ayat 1 dan 2 junto pasal 76E UU No 17 tahun 2016 tentang perubahan UU No 23 tahun 2002 dengan ancamana paling rendah 3 tahun. Sementara Rahul katakan, apa kesalahannya,” bebernya.

Syarifuddin mengatakan, sebenarnya dalam sistem pemeriksaan BAP tidak dibenarkan ada kata-kata demikian kepada terperiksa untuk mengakui perbuatannya.

“Ya, namanya anak-anak diming-imingkan begitu siapa yang tidak mau. Daripada lama disini,” ucapnya.

Menurut dia, ada ketimpangan maupun keganjalan pada saat meminta surat penahanan, perpanjangan penahanan dan itu sama sekali tidak ada untuk tersangka.

“Ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh penyidik yang tidak disampaikan kepada pihak keluarga tersangka, yang semestinya menurut saya harus dan wajib menurut UU yang harus disampaikan,” tegasnya.

Anehnya lagi, kata Syarifuddin, pengakuan dari penyidik berkasnya telah P21, namun setelah dirinya melihat di lembaga pemasyarakatan, berkasnya masih di Kepolisian, artinya berkasnya masih P19.

Dan yang menjadi ketimpangam lagi dan disaksikan oleh Olleng pacar korban, pada saat Rahul dan Olleng ke rumah Ibnu, baik kursi dan meja sudah berantakan, sehingga Rahul menanyakan ke Ibnu, diapakan anaknya orang. Si Ibnu kemudian katakan jangan kau tanyaka, pusingka ini. Artinya pada saat Rahul tidak ada di tempat, terjadi insiden antara ID dan Ibnu.

“Nah, ini sebenarnya penyidik harus menggali keterlibatan si Ibnu ini apa, sebagai seorang peyidik harus kerja secara profesional. Kenapa penyidik tidak menggali ini hingga ada darah keluar dari tangannya si Ibnu,” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Polman, AKP Syaiful dikonfirmasi Rabu (13/3/2019) mengatakan, berkas Rahul sudah masuk tahap 1 dan sudah ditangan Jaksa di Kejaksaan Negeri Polman. “Masih dinyatakan P19 untuk dilengkapi berkasnya,” kata Syaiful Isnaini.

Ia membantah jika pihak penyidik telah melakukan rekayasa kasus.

“Sebagai penyidik, kita tidak dibenarkan merekayasa kasus, apalagi sampai memutarbalikkan fakta hukum. Unsur-unsur yang disangkakan kepada pelaku sudah terpenuhi semua. Apalagi, korban ID menunjuk langsung kepada tersangka,” aku Syaiful Isnaini sembari mengatakan, memang ada LSM dan wartawan mengaku datang kepadanya untuk dibantu. “Tidak bisa kita berbuat banyak karena SPDP sudah terbit. Silakan menghubungi jaksanya saja,” tambah Syaiful Isnaini.

(usman)