Mapos, Mamasa – Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat, Munandar Wijaya, menegaskan bahwa tradisi warung kejujuran yang masih bertahan di Kabupaten Mamasa merupakan identitas moral masyarakat yang tidak boleh hilang oleh arus modernisasi. Ia menyebut warung tanpa penjaga itu sebagai bukti kuatnya karakter keikhlasan dan kepercayaan warga pegunungan.
Warung kejujuran sudah lama menjadi praktik sosial turun-temurun di Mamasa. Di sepanjang jalan desa, warga menjual hasil kebun seperti pisang dan nanas tanpa penjaga, hanya dengan menuliskan harga dan menyediakan kotak uang bagi pembeli. Berikut penuturan Munandar :
Cermin Karakter Warga Mamasa
Menurut Munandar, sistem jual beli berbasis kepercayaan itu tidak sekadar tradisi, tetapi gambaran jati diri masyarakat Mamasa.
“Warung kejujuran adalah identitas moral kita. Di situ ada nilai keikhlasan, tanggung jawab, dan kepercayaan yang sudah tertanam sejak lama,” ujarnya.
Tumbuhkan Disiplin dan Tanggung Jawab
Ia menjelaskan bahwa keberadaan warung kejujuran ikut membentuk karakter sosial, bukan hanya bagi warga lokal, tetapi juga bagi pelintas yang melintasi jalan-jalan pedesaan.
“Setiap orang diuji kejujurannya. Mereka mengambil barang dan membayar tanpa diawasi. Itu membentuk disiplin dan kesadaran moral,” katanya.
Generasi Muda Diingatkan Tidak Melupakan Nilai
Munandar optimistis nilai kejujuran masih dijaga oleh generasi muda Mamasa, terutama karena pendidikan moral di rumah tangga dan dukungan para tokoh adat serta tokoh agama.
“Orang tua di Mamasa selalu menanamkan adab dan nilai kejujuran kepada anak-anaknya. Itu yang membuat tradisi ini tetap hidup,” tambahnya.
Peran Adat dan Pemerintah Daerah
Ia menilai keberlangsungan warung kejujuran tidak lepas dari keterlibatan pemangku adat dan pemerintah daerah.
“Tradisi ini bertahan karena ada kerja bersama. Pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama terus mengingatkan masyarakat agar menjaga nilai luhur tersebut,” jelasnya.
Tantangan Modernisasi
Meski demikian, Munandar tidak menampik bahwa pengaruh luar, terutama dari media sosial, menjadi tantangan bagi keberlanjutan tradisi ini.
“Konten negatif sangat mudah diakses. Jika tidak disaring, itu bisa mengikis nilai-nilai yang sudah diwariskan sejak dulu,” ujarnya.
Potensi Menjadi Ikon Kearifan Lokal
Ia menyebut warung kejujuran memiliki potensi menjadi ikon kearifan lokal Mamasa yang dikenal secara nasional.
“Banyak orang sudah melihat dan mendengar tradisi ini melalui media sosial. Ini bisa menjadi kebanggaan daerah,” ucapnya.
Harapan untuk 5–10 Tahun ke Depan
Munandar optimistis tradisi ini akan tetap bertahan di masa depan.
“Selama masyarakat dan pemerintah merawatnya, warung kejujuran tidak akan hilang,” tegasnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Ia berpesan agar generasi muda menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas diri.
“Nilai kejujuran yang diwariskan di Mamasa harus dibawa ke mana pun. Itu yang menjaga karakter kita dari pengaruh negatif perkembangan zaman,” kata Munandar menutup wawancara.
(sri/*)






